Monday, December 19, 2011

OMAR LAMAR

Tak ku sangka pengembaraanku sampai pada daerah bergunung-gunung batu. Daerah berudara sejuk dibanding wilayah Saudi Arabia pada umumnya. Jika musim panas suhunya hanya seperti iklim tropis saja. Namun jika musim dingin suhunya mencapai lima derajat celcius. Kondisi semacam itu lumayan membuat aku yang biasa tinggal di daerah tropis ini merasa beku. Beku karena enggan beraktivitas, enggan bergerak dan lebih memilih bersembunyi di balik selimut. Meskipun demikian aku mensiasati diri pada tubuh kecilku yang tak tahan dingin itu dengan mengenakan baju tebal berlapis-lapis. Dengan begitu aku dapat beraktifitas pada dingin yang mencekam jika tiba giliranku shift malam. Aku terlihat gemuk oleh lapisan-lapisan baju itu.

Pada pagi, siang, malam aku melakoni tugas harianku sesuai yang di jadwalkan. Berusaha menikmati hari-hari berjumpa dengan rekan kerja, berjumpa dengan anak-anak kecil yang terbaring lemah, mencoba bercanda gurau dengan mereka tuk alihkan pedih yang tengah mereka alami. Lain halnya dengan mereka yang terbaring dalam kondisi kritis dan membutuhkan perhatian khusus. Mesin pemantau selalu stand by membaca kondisi pasien-pasien kritis itu.

Jika tiba gilirannya PM shif t yang dijadwalkan mulai pukul 15:00 sampai dengan pukul 23:00. Pada kesempatan itu keluarga atau pun kerabat si sakit diberi kesempatan untuk berkunjung menjenguknya. Tak begitu lama waktu kunjungan di ruang ICU. Hanya dari pukul 16:00 sampai pukul 18:00 menjelang waktu sholat maghrib tiba. Selama waktu itu kami dihadapkan dengan beberapa pertanyaan mengenai kondisi pasien oleh pengunjung. Satu hal yang membuatku salut, dalam kondisi sekritis apa pun mereka tak ketinggalan mengucapkan alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah selalu di panjatkan dalam segala kondisi. Ikhlas dengan apa yang tengah diujikan oleh Allah kepada si sakit atau pun kerabatnya. Tak hanya diucapkan jika dalam momen bahagia saja.
Manusia memiliki berbagai karakter. Jika tidak puas dengan kondisi keluarganya yang terbaring lemah tak jarang yang mengajukan komplen dengan keluhan-keluhan yang disaampaikannya. Alasan ini dan itu diutarakan. Kami sebagai tenaga medis hanya mampu berusaha semaksimal mungkin dalam menolong. Hasilnya kami serahkan kepada sang Maha penyembuh. Lain halnya dengan mereka para penyabar yang ikhlas dalam segala kondisi yang tengah dihadapinya.

&&&

Bercerita mengenai keluarga pasien, ada beberapa keluarga pasien yang kami anggap dekat karena lamanya anak-anak itu dirawat di ruang kronik itu. Bahkan bisa dianggap kami para perawat adalah orang tua dari mereka. Karena para orang tua hanya boleh mengunjungi anaknya itu pada jam kunjungan saja. Bagi mereka yang tempat tinggalnya jauh dari Rumah sakit itu tidak bisa menegok setiap hari. Hanya beberapa kali dalam sebulan saja. Bahkan ada yang beberapa bulan baru muncul melihat anaknya.

Keluarga Umar adalah salah satu dari pasangan orang tua yang sering menjenguk buah hati mereka. Namun hari itu senyum manis mereka tidak tampak. Wajah layu berbalut mendung itulah yang tampak oleh keduanya. Kondisi kesehatan putranya yang semakin kritis menjauhkan wajah mereka dari ceria yang biasa tampak olek keduanya.

Hari itu niqabnya tampak basah. Ia tak mampu lagi menahan kesedihan yang tengah menghampirinya melihat tubuh Umar tersayang terbujur kaku. Setelah lama berharap dalam koma berkepanjangan, hari itu telah terjawab sudah. Bocah mungil yang kehadirannya dinanti selama lima tahun itu kini telah kembali ke pangkuanNya. Ya, bertahun-tahun pasangan suami-istri itu menanti kelahiran umar. Saleh yang dikenal ramah dikalangan keluarga pasien itu, kali itu ia tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya berdiri disamping Rehana istri tercintanya seraya meletakkan tangannya di bahu Rehana. Ia membiarkan sang istri bersandar di bahunya berusaha melerai tangis yang telah pecah. Ah lagi-lagi aku tak kuasa menyaksikan adegan seperti itu. Adegan yang kulihat setelah aku dan rekanku merapikan jasad yang tak lagi bernyawa.

&&&

Saleh adalah seorang pengajar pada salah satu madrasah Tsanawiyah di wilayah Taif K.S.A. Sepeninggalan Umar, kami tak lagi melihat pria berjenggot itu muncul di area kronik itu. Setiap sore ia rajin menengok buah hatinya sekedar membacakan kalamullah lalu mendoakannya. Begitu pun Rehana wanita berkaca mata dengan niqabnya itu tidak lagi tampak di ruangan itu. Ia yang kerap kali dating sekedar bercanda gurau dengan putranya sambil memutar video Hamood hand phone miliknya. Karakternya yang lembut hampir tidak pernah mengeluh komplen kepada dokter atau pun perawat yang bertugas disana. Ya, Kami mengakui tabiat baik kedua sejoli itu.

Pernah suatu ketika ada keluarga pasien yang mengeluh komplen atas kondisi anaknya yang baru saja dirawat di ruang ICU. Lalu kulihat Rehana mendekatinya. Ia memberi pengertian kepada kepada ibu dari pasien itu. “Petugas disini bekerja selama 24 jam dan memberi perhatian penuh. Anak saya telah lebih lama dirawat disini, dan mereka pun perhatian. Bersabarlah, Allah akan menyembuhkan anakmu insyaAllah.” Begitu tutur Rehana kepada ibu dari pasien baru itu. Dan tampak sekali perubahan dari sang ibu tadi setelah mendapat pengertian dari Rehana. Ia tidak lagi mengejukan komplen dengan nada keras seprti sebelumnya.

Memang Kami mengakui emosi dari keluarga pasien kebanyakan labil karena belum menerima kondisi yang tengah menimpa keluarganya. Tak jarang kami sebagai petugas terkadang terkena dampak dari keadaan itu. Namun kami pun memaklumi jika pelampiasan itu masih dalam batas wajar. Apalagi pada penduduk yang terkenal badui diantara penduduk Saudi lainnya. Masih banyak dari mereka yang pendidikanya rendah padahal biaya pendidikan di Negara itu telah dijamin oleh pemerintah namun mereka enggan bersekolah.

&&&

Tiba saatnya bulan Ramadan, dimana jam besuk pasien di Rumah Sakit itu dirubah usai berbuka puasa sampai pukul 11 malam. Malam itu kira-kira selepas sholat tarawih kami melihat saleh dating ke Rumah Sakit. Ia mengunjungi area kronik tempat dahulu Umar dirawat disana. Ia pun mencandai pasien kecil yang terbaring di sana seperti dahulu ia bercanda gurau dengan putranya. Mungkin sekedar melepas rindu kepada buah hatinya yang telah tiada maka itulah yang ia lakukan.

Saleh pun menyapa kami para petugas disana. Ia menyampaikan bahwa maksud kedatanganya sekedar bersilaturrahmi mengingat dahulu putranya pernah dirawat di ruang itu. Sekalian menyampaikan berita gembira bahwa istrinya tengah mengandung. Alhamdulillah kami pun senang mendengar kabar bahagia itu. Semoga kelak anaknya sehat, itu lah satu doa yang kami panjatkan untuk keduanya.

&&&
Spinal muscular atrophy itulah diagnosa yang diderita oleh almarhum Umar Saleh. Saraf bagian ekstremitar yang tidak berfungsi sempurna sehingga ia tidak bisa menggerakan tangan dan kakinya. Hanya sebatas jari telunjuk yang mampu digerakannya.

Tidak hanya Umar yang menderita penykit seperti itu. Lamar salah satunya. Ia adalah salah satu penghuni area kronik dengan diagnose yang sama. Pertumbuhan tubuhnya tidak norman hingga menjalar pada otot-otot pernafasan yang melemah. Untuk bernafas ia harus disuport dengan ventilator melalui jalan nafas buatan yang dilubangi dari lehernya. Tracheostomy yang terpasang permanen dibantu dengan mesin pensuport nafas. Begitulah caranya ia bernafas.

Sedih yang sangat pastilah beban mental yang harus dihadapi oleh kedua pasangan itu ketika harus mendengar kabar bahwa divonis permanen menggunakan ventilator. Seumur hidupnya harus tinggal di rumah Sakit dibantu dengan alat-alat medis.

Bukan masalah biaya pengobatan yang mereka khawatirkan. Karena dana seluruh dana kesehatan warga di Negara itu sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Bahkan para orang tua yang yang mempunyai anak dengan kasus kronik seperti itu mendapat tunjangan khusus sekian ribu Riyal per bulannya. Mungkin maksud pemerintah setempat dengan dana itu sebagai alih-alih pelipur sedih atas kondisi yang menimpa keluarga itu.

Mirisnya ada sebagian keluarga yang memperalat kondisi tersebut. Mereka tidak rela jika anaknya sampai meninggal. Mereka lebih menginginkan anaknya hidup dengan cacat yang dideritanya. Jika sedikit saja kondisi kesehatannya menurun, maka bukan main mengajukan komplen. Ya, dana tunjangan itu mengalir selagi pasien masih hidup. Jika si pasien telah meninggal maka diputus pula dana tunjangan dari pemerintah itu.

Kami menyebut anak-anak tersebut adalah anak mahal. Karena harus sangat hati-hati dalam merawatnya. Semoga pandangan kami dalam hal itu adalah salah, jika memang para orang tua mengajimumpungkan kondisi itu untuk mendapat uang.

&&&

Kedua orang tua lamar pun setiap sore rajin mengunjungi buag hatinya. Walau pun, mereka tahu kondisi anaknya bakal cacat seumur hidup, namun mereka memperlakukanya dengan penuh kasih saying. Sebagai wujud perhatiannya mereka pun membelikan mainan layaknya anak normal seusianya. Sekedar boneka penghias ranjang tidur atau pun portable DVD yang diputarkan untuk menemaninya ketika terjaga. Kalau pun ayah atau ibunya tak sempat menengok, Abdurrahman ayah lamar kerap kali menanyakan kondisi anaknya via telephone. Ia menanyakan kondisi anaknya kepada petugas yang sedang dinas disana.

Dibalik keharmonisannya tercium kabar bahwa Abdurrahman dan fatma ibu lamar sedang pisah ranjang. Mereka nyaris bercerai dengan alas an bahwa fatma menolak untuk mempunyai anak lagi. Kia khawatir jika nanti anakny lahir akan menderita penyakit yang sama seperti kakaknya.

Rupanya kekhawatirannya itu berdampak pada keharmonisan rumah tangga mereka. Dahulu mereka tampak bersama bercanda gurau dengan anaknya yang terbaring sakit di ranjang putih itu. Kala itu tidak lagi demikian adanya. Jika Abdurrahman tengah asyik menemani Lamar, lalu sosok fatma muncul. Maka ia pun pergi memberikan kesempatan kepada Fatma agar bisa bercanda gurau menengok putrinya.

Kejadian itu tidak berlangsung lama. Kurang lebih hanya tiga bulan saja. Setelah keduanya menyadari bahwa segala apa yang terjadi adalah kehendakNya. Fatma pun mau membuka hatinya kembali merajut keharmonisan yang pernah pudar.

&&&

Beberapa bulan setelah Ramadan lalu tampak saleh tengah berbincang-bincang dengan Abdurrahman di dekat tempat tidur Lamar. Seperti yang kerap kali ia lakukan dahulu, setelah menjenguk putranya ia pun menjenguk Lamar yang mempunya diagnose yang sama seperti anaknya.

Rehana telah melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Umar. Sengaja namanya disamakan dengan putra pertamanya, sebagai pengganti umar yang telah tiada. Ia juga berharap Umarnya akan setangguh Umar Bin Khotob sahabat Rosul.

Usia Umar saat itu baru empat bulan. Kali itu memang umar sedang dirawat di lantai atas. Ruang anak biasa pada umumnya akibat pneumonia yang dideritanya.

Setelah beberapa minggu Umar dirawat namun tidak menunjukan adanya perbaikan. Pada minggu Umar dipindahkan ke ICU. Dengan nafas yang tersengal-sengal serta keadaan umum yang jelek Umar dilarikan ke ruang ICU pada malam itu. Diantar oleh dr. Mahboob serta perawat jaga dari ruang anak. Rehana pun ikut serta mengantar putranya itu.

Dokter menjelaskan jika diduga anaknya menderita diagnosa yang sama dengan saudaranya yang telah meninggal. Belum lepas dari ingarutan kami akan sosok Umar yang dahulu, kini umar yang baru dating dengan kasus yang sama.

Kali itu kembali aku melihat Rehana sesenggukan. Sedih yang teramat ia rasakan sudah tak tertahan lagi. Ia lebih memilih menjauh karena tidak tega melihat anaknya harus ditangani oleh tenaga medis.
Aduhai rehana, bersabarlah. Hanya satu kata itu yang mampu ku ucap ketika kami selesai membenahi Umar diruang tindakan.

&&&

Saleh dan Rehana sudah pasrah dengan kondisi anak keduanya. Ia sudah menerima jika memang Umarnya kini akan sama seperti Umarnya yang dahulu. Ia bakal menghuni area kronik itu lagi yang hidupnya bergantung kepada mesin-mesin itu.

Berbeda dengan Fatma ibu Lamar yang dulu sempat khawatir jika mempunyai anak lagi akan bernasib sama. Hal itu sempat mengusik keharmonisan rumah tangga mereka. Sebaliknya Rehana dan Saleh semakin romantis saja. Mereka berkeinginan untuk mempunyai momongan lagi. Mereka berharap kelak Allah akan memberikan keturunan untuk mereka dengan sehat jasmani dan rohani.

Untuk itu Rehana benar-benar menjaga kesehatannya. Ia pun rela dan sangat menginginkan jika nanti akan ada lagi janin yang tumbuh di rahimnya. Karena itu ia tak sering tampak mengunjungi Umar di ruang itu. Hanya Saleh dan kerabat lain yang tak jemu menengok Umar.

Suatu ketika aku bertugas di sore hari. Tampak Rehana berada di Area kronik bercanda gurau dengan Umar. Aku menghampirinya. Cipika-cipiki serta salam dan kabar ku tanyakan. Rasanya aku begitu kangen dengan kelembutannya. Ketika usia Umar setahun lebih empat bulan. Rehana menggendong bayi mungil yang diberi nama Jana, tak lain itu adalah adik kandung Umar. Mereka sangat berharap jika Jana akan benar-benar sehat sebagai penerus pasangan itu. Penantian panjang oleh kedua sejoli itu akhirnya terwujud sudah dengan hadirnya Jana si bayi mungil itu.

_________&&&___________

Cibubur, 8 februari 2011. Mencuri hening dalam riuh.

Thursday, May 6, 2010

KHANSAIN




Di bukit Marwa usai melaksanakan ritual umroh hingga tahalul, aku duduk rehat di atas bebatuan yang dipoles licin itu. Niatku hanya rehat sejenak, lalu kembali ke arah ka’bah ingin mencium Hajar Aswad tempat pertemuan bibir para nabi. Mumpung pagi itu jama’ah yang tengah bertawaf tidak begitu banyak, sehingga bisa diatur dalam baris antrian. Setelah itu baru ku lanjut dengan i’tikaf, berdiam diri di Masjid.
Kaltsum yang sejak tadi bebarengan denganku, kini ia pergi barang sebentar untuk mengambil air zam-zam. Aku hanya menunggunya di atas bebatuan licin itu.

Seorang perempuan paruh baya berkebangsaan Malaysia menghampiriku. Ia bermaksud meminjam gunting untuk tahalul. Ku pinjamkan guntingku padanya. Tak lama kemudian ia mengembalikan gunting itu padaku. Ia pun duduk tak jauh dariku.

Tampak di ujung sana tak jauh dari pandaanganku, seorang anak kecil cantik dengan mukena bercorak bunga-bunga. Ditaksir usianya sekitar lima tahun. Pandangannya terarah pada area tempatku duduk. Aku pun sempat bertemu pandang dengannya. Pikirku, mungkin dia tengah memperhatikan wanita di sebelahku. Aku pun mengabaikannya.

Sesekali ku jatuhkan pandanganku pada sikecil yang imut itu. Ia melempar senyum padaku. Aku pun membalas senyumnya kembali.

Kaltsum yang sedari tadi mengambil air zam-zam, kini telah tiba dihadapanku. Ia membawakan dua gelas plastik air zam-zam. Satu untukku dan yang satu lagi untuk dirinya sendiri.
Ku hadapkan badanku ke arah Qiblat. Bismillahirrohmanirrohiim, ku teguk air zam-zam itu. Ku beri jeda sambil bernafas tiga kali sebelum tegukan selanjutnya. Tiga kali tegukan zam-zam telah ku minum. Alhamdulillah...
Tak lupa ku panjatkan do’a setelah meminumnya.
Allahumma inni as’aluka ilman nafi’an, warizqon wasia’an, wasyifa’an minkulli da’in, wasaqomin, ya arhamarrohimiin...
Ya Allah sesungguhnya aku memohon kapada-Mu ilmu yang manfaat, rizki yang luas dan obatilah dari segala penyakit dan penderitaan, wahai dzat yang memberi rahmat
.”
Sesuai dengan hadits nabi “ma’u zamzam limaa syuriba lahu.” Bahwa air zam-zam mengikuti kehendak orang yang meminumnya.

Ketika aku hendak beranjak bersama Kaltsum, terdengar suara anak kecil menyeru, “bunda...” Aku tidak menghiraukanya. Mungkin panggilan itu ditujukan pada wanita di sebelahku. Pikirku dalam hati.
Baru selanghah kakiku bergerak, kemudian sikecil menghadang langkahku seraya menarik tanganku sambil berseru, “bunda...”
Aku tercengang dibuatnya. Aduhai...siapa anak manis ini?
Aku dan Kaltsum saling beradu pandang.

&&&

Sikecil menggandengku. Didekatkannya aku pada seorang lelaki berjenggot tipis, rapi, berpakaian ihrom yang tengah duduk sendirian di ujung bukit Marwa, tak jauh dari kerumunan orang-orang yang tengah bertahalul.
Kaltsum mengikuti langkahku dan sikecil.

“Ayah, ayo kita pulang sama-sama bunda, yah. Benarkah bunda seperti ini, yah? Seperti cerita ayah, kalo bunda tu cantik, pake jilbab. Itu kan yang sering ayah bilang? Ayah juga sering beribadah bersama bunda di Haram ini. Ayo, yah, sekarang bunda sudah ada disini. Kita pulang sama-sama ya, yah...”

Aku semakin tidak mengerti denga celoteh anak ini.
Kemudia lelaki itu bersuara,
“Khansa...”
Aku dan sikecil menoleh ke arah lelaki itu.
Bagaimana dia tahu namaku? Tanyaku dalam hati.
“Ayah, Khansa kangen bunda...” suara sikecil memelas.
Ternyata nama sikecil sama dengan namaku.

“Ma’afkan putri saya, ukhti.”
“tidak mengapa, akhi.” Jawabku.
“Ukhti jama’ah umroh dari indonesia juga?”
“Tidak, akhi, saya mukim disini.”
“Ooh, tepatnya dimana?”
“Saya tinggal di hay Salamah Jeddah. Kebetulan saya mengajar di Darul Ulum, sekolah anak-anak Indonesia.”
“Saya pernah mukim disini juga, ikut belajar di el Sawlatiyah Makkah. Ukhti kenal dengan bu Layla? Suami beliau kepala sekolah di Darul Ulum.”
“Bu Layla istri pak Zainal?”
“Ya benar, bu Layla adalah bibi saya.”
“ya, saya paham dengan beliau.”
“Sampaikan salam saya pada bu Layla, ukhti. Sekali lagi ma’afkan atas tingkah putri saya.”
“Insya Allah akan saya sampaikan salamnya.”

Lelaki itu kemudian berlalu sambil menggendong sikecil. Menjauh dari bukit Marwa dan berbaur dengan orang-orang yang tengah melakukan sa’i. Kulihat sikecil mengarahkan pandanganya ke arahku dengan wajah mengiba. Seperti seoranganak yang tk mau dipisahkan dari ibunya.

Salam untuk bu Layla. Ingatanku terbesit akan bu Layla. Salam, dari siapa? Aku baru ingat jika tadi kita tidak menanyakan nama satu sama lain. Bagaimana aku menyampaikan salamnya?
Oh, akan ku sampaikan salamnya dari seorang lelaki jama’ah umroh yang mengaku keponakannya, mempunyai putri bernama Khansa dan pernah belajar di el Sawlatiyah. Mungkin dengan begitu, mudah-mudahan bu Layla akan paham.

&&&

Siang itu aku baru saja rehat dari aktivitas mengajarku. Setengah hari bergelut dengan murid-murid lumayan membuatku memutar otak untuk memahami bermacam-macam tingkah mereka.
Tiga hari yang lalu aku berada di Haram, melaksanakan ibadah umroh. Bertemu dengan anak kecil yang aku sendiri tidak paham apa maksudnya.
Bu Layla, salam untuk beliau pun belum aku sampaikan.“
Ting tong...assalaamualaiku...” bunyi jaros terdengar, tanda ada orang di luar minta dibukakan pintu.
Saat itu aku tengah sendiri di Imarah . Kaltsum sedang berbelanja bersama bibinya di baqalah Indonesia untuk penuhi kebutuhan harian. Memang sejak kemarin kulihat isi tsalajah sudah berkurang, sudah tampak ruang-ruang spasi didalamnya.

Aku beranjak keluar membukakan pintu.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warahmatullah.”
Aku kaget dibuatnya. Bu Layla datang bersama sikecil Khansa yang ku temui di bukit Marwa usai umroh lalu. Cipika-cipiki serta kabar ku tanyakan pada bu Layla. Khansa kecil tampak malu-malu. Kugandeng tangannya lalu ku ajak masuk.

Bu Layla mengawali percakapan.
“Ayahanda Khansa telah menceritakan tentang perjumpaan kalian di Marwa kemarin-kemarin. Kebetulan jama’ah umroh sekarang sedang rekreasi di Jeddah sebelum besok kembali ke Indonesia. Khansa kecil selalu menanyakanmu, Khansa. Karena itu, Nawaf ayah dari Khansa memintaku agar mempertemukan dek Khansa denganmu.”
“Iya bu, kemarin ayahnya dek Khansa titip salam untuk ibu.”
“Alaiki wa alaihissalam”

Ku putar nasheed anak-anak Toyoraljannah. Lalu ku ajak Khansa kecil menikmati hiburan itu.
Aku melanjutkan perbincanganku dengan bu Layla.
“Sejak lahir Khansa tidak pernah melihat wajah ibunya. Ibunya meninggal dalam perjuangan melahirkan bayi mungil yang diberi nama Khansa. Ayahnya begitu sayang kepadanya. Sebagai single parent ayahny begitu telaten merawat putrinya. Hasna, ibu dari Khansa adalah mahasiswi Umm Al Quro Makkah. Sedangkan Nawaf tengah belajar di el Sawlatiyah ketika itu.
Keduanya menikah di Malang di kediaman Hasna pada liburan musim panas. Setelah menikah, mereka kembali ke Makkah untuk menyelesaikan studi masing-masing.
Khansa pun lahir di Makkah. Namun nyawa ibunya tidak tertolong ketika melahirkan si bayi. Jenazah Hasna dimakamkan di Maqbaroh Ma’la Makkah.
Betapa terpukulnya Nawaf menerima kenyataan itu.
Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Khansa pun tumbuh besar. Karena kecerdasanya, ayahnya terkadang kewalahan diberondong berbagai tanya yang dilontarkanya. Salah satunya ia selalu menanyakan keberadaan ibunya. Ia selalu bertanya, kenapa dirinya belum juga bertemu dengan sosok ayu yang selalu diceritakan oleh ayahnya itu?”

Tutur bu Layla panjang lebar tentang Khansa kecil dan akh Nawaf ayahnya.

&&&

Aduhai khansa kecil, betapa merindunya kau pada sosok bunda yang hanya tinggal cerita. Nalarmu belum sampai untuk menerima kenyataan yang sebenarnya.
Aku dapat merasakan rindu yang dialami oleh Kansa kecil. Beruntung aku masih diberi kesempatan untuk melihat wajah ibuku. Walau akhirnya aku kehilangan keduanya. Telah lama aku hidup sebatang kara. Sosok ayah dan ibuku hanya dalam angan saja.

Ketika usiaku sebelas tahun, ketika itu aku duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar. Ibuku dijemput oleh yang maha kuasa. Setahun kemudian ayahku menyusul ibu. Aku hanya seorang anak tunggal tanpa ayah atau pun ibu.
Rasanya dunia begitu senyap bagiku. Kemana kan ku langkahkan kaki ini? Kepada siapa aku hendak berkeluh kesah? Layaknya teman-teman seusiaku yang masih mempunyai keluarga lengkap. Ibu, ayah, kakak, adik, aku tak punya semua itu.

Sepeninggalan ayahku, aku memutuskan untuk belajar di Pondok Pesantren Arroulandlotul Mardliyah Janggalan Kudus. Pikirku dengan tinggal di asrama pondok, aku tidak akan kesepian lagi. Akan ada kawan yang menemani hari-hariku. Di sana aku akan lebih konsentrasi belajar Al Qur’an. Dengan menyibukan diri bergelut dengan Al Qur’an, semoga hari-hariku bisa tenang dan tidak lagi suntuk. Aku berniat untuk bisa menghafal 30 juz. Dan lagi disana tak jauh dari tempat tinggal eyang putriku yang terletak di belakang masjid Menara. Sehingga aku bisa lebih dekat jika berkunjung kepada beliau.

Bismillah, kutinggalkan Kragan Rembang. Ku langkahkan kakiku menuju jalan Kyai Telingsing Janggalan Kudus.
Kusibukan hari-hariku dengan menghafal Al Qur’an dan mengikuti pelajaran-pelajaran penunjang lainnya. Setiap hari Jum’at sore aku berkumpul bersama kawan-kawan saling menyimak hafalan. Seorang melafalkan dan yang lain menyimaknya.

Sesekali aku berkunjung ke rumah eyang putri yang letaknya di belakang masjid Al Aqso, nama lain dari masjid Menara Kudus.
Begitu damainya suasana di masjid itu. Yang terdengar hanyalah lantunan kalamullah. Tampak santri-santri bertengger dengan berbagai pose dalam menghafal ayat-ayat-Nya. Ada yang duduk silah, ada yang menghadap dinding agar lebih konsentrasi, ada pula yang sambil selonjoran sambil bersandar dengan Qur’an kecil di tangan mereka. Ada yang dengan memejamkan mata sambil mulut komat-kamit melafalkan ayat-ayat-Nya, lalu sesekali menengok bacaanya pada Al Qur’an kecil ditangannya.

Melihat damainya suasana masjid Menara, terkadang terkelebat dalam anganku. Mungkin suasana Masjidil Haram Makkah seperti itu kah? Akankah aku berkunjung ke sana?
Haromain, dua tanah Haram yang ku rindu. Makkah, Madinah, aku merindumu. Seperti rinduku pada ayah dan ibuku.

&&&

Usai wisuda khotmil qur’an, aku masih mengabdikan diri pada pondok. Mengajar anak-anak tingkat ibtida , sambil melancarkan hafalanku. Juga ilmu tafsir yang musti ku pelajari atas apa yang telah ku hafal.

Delapan tahun sudah aku tinggal di pondok. Suka duka telah banyak kulalui di sana. Seorang kawan mengabariku jika dibutuhkan seorang hafidzoh untuk mengajar anak-anak Indonesia yang tinggal di Saudi.
Kupertimbangkan apa yang telah diberitakan oleh kawanku itu. Ku timbang dan ku timbang. Barang kali ini adalah jawaban atas rinduku pada Haromain.

Ku ceritaka kabar ini pada bu nyai Habibah selaku pengasuh pondok. Karena pada siapa lagi aku bertukar pendapat jika tidak pada bu nyai yang sudah seperti ibuku sendiri.Beberapa kali aku istikhoroh, mohon petunjuk-Nya, semoga jalan yang ku tempuh ini maslahat .

Kini aku telah berada di tanah gundul Saudi. Rinduku pada Haromain pun telah tersampaikan.

&&&

Tak terbesit sama sekali dalam imajinasiku sebelumnya jika pengembaraanku bakal sampai ke tanah gundul Saudi ini. Aku hanya sebatang kara yang melanglang buana mengikuti arus yang telah digariskan.

Tiga tahun sudah aku mengajar di Darul Ulum. Dalam kurun waktu itu, baru sekali aku menginjakkan kaki di kampung halamanku. Rembang yang telah lama ku tinggalkan sejak ayahku menyusul ibu. Lalu Kudus adalah kampung keduaku. Disanalah masa pendewasaanku. Pada usia yang dipaksa harus berfikir secara dewasa atas kenyataan yang harus ku alami.

Sebulan setelah kepulangan dek Khansa bersama ayahnya ke Indonesia, bu Layla memberi kabar yang sangat mengejutkan bagiku. Akh Nawaf bermaksud melamarku melalui bu Layla.
Aduhai...aku hanya melihatnya sepintas di bukit Marwa sebulan yang lalu. Aku tidak begitu mengenalnya. Begitu pun dia, ku yakin dia pun tak tahu tentang aku. Hanya Khansa kecil yang agak lama ku lihat, karena waktu itu ia berkunjung ke imarahku.

“Bagaimana bisa, bu?”
“Saya tahu siapa kamu, Khansa. Saya telah menceritakan kepada Nawaf tentangmu. Tentang keberadaanmu yang seorang yatim piatu, serta perjalananmu hingga kau sampai disini. Dan maaf, saya telah memberi tahu fotomu kepada Nawaf beberapa minggu yang lalu. Dia yang memintanya, karena Khansa kecil selalu menanyakanmu. Kau istikhoroh dulu, minta petunjuk kepada Allah agar apa yang menjadi keputusanmu maslahat dunia akhirat.”

Aku terdiam sejenak. Mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh bu Layla.

“Baiklah, bu. Akan saya pikirkan terlebih dahulu.”
“Tidak mengapa, saya tunggu jawabanmu setelah seminggu.”

&&&

Sekian lama aku hidup sebatang kara. Kini ada seseorang yang mengajakku hidup bersama namun ia sudah tak sendiri. Apakah aku bisa masuk ke dalam dunia mereka?
Aku teringat ketika Khansa kecil digendong ayahnya beranjak dari Marwa, dikerumunan orang-orang yang tengah melakukan sa’i. Dengan wajah memelas, pandanganya seakan tak mau lepas menatap wajahku.
Duh...Allah, berilah petunjuk pada hambamu yang do’if ini.

Beberapa kali istikhoroh telah ku lakukan. Telah ku pasrahkan semua pada Robb yang mengatur hidup ini. Bismillah semoga keputusanku ini maslahat.

Seminggu kemudian aku mengabarkan kepada bu Layla melalui telephone, bahwa aku mengiyakan pinangan akh Nawaf.
“Alhamdulillah, semoga keputusanmu tepat, Khansa. Akan saya kabarkan berita gembira ini pada keponakanku segera. Insya Allah akad nikahnya akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.”
Aku terperanjat mendengar bu Layla mengucapkan “akad nikah.” Sedang aku masih berada di Saudi. Liburan akhir tahun masih menunggu sekitar tiga bulan lagi.
Lalu bu Layla menjelaskan.
“Akad nikah tetap akan dilaksanakan walau kau masih disini. Nanti cukup walimu yang hadir dan beberapa saksi dalam acara itu. Yang penting kau sudah menyetujuinya.”

Satu-satunya waliku adalah paman Hamzah yang tinggal di Jekulo Kudus.
Keluarga Nawaf dari Snori Tuban datang ke rumah pamanku menyampaikan maksud dan tujuanya.

Sebulan kemudian akad nikahku dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Husana Tuban di kediaman akh Nawaf calon suamiku.
Akad nikah dilaksanakan tanpa kehadiranku. Selama prosesi akad nikah itu, aku, Kaltsum, bu Layla dan beberapa kerabat di hay Salamah Jeddah tempatku tinggal, menyimak prosesi itu melalui tele phone yang di loud speaker. Paman Hamzah selaku waliku sendiri yang menikahkan langsung.

Terdengar ijab qobul dari seberang.
Qobiltu..........Halan
Terdengar suara hadirin dari seberang yang mengesahkan ijab qobul itu.
Serentak yang hadir baik yang di seberang maupun yang bersamaku mengucap syukur “alhamdulillah...”
Barokallahu laka wabaroka alaika.........”

Usai sudah prosesi pernikahanku. Kini aku telah bersuami. Tidak sekedar itu, aku pun telah mempunyai seorang putri tanpa harus susah payah mengandungnya. Dua Khansa yang dilanda sepi telah dipersatukan oleh-Nya.

Terdengar suara ringing dari mobile ku.
Ku lihat di layar mobile tertulis “akh Nawaf.” Deg...baru saja melihat namanya muncul di layar mobile, jantungku berdebar.
Bismillah ku angkat telephonnya, namun aku malu untuk mendahului bicara.
“Assalamualaikum.” Terdengar suara dari seberang.
“Alaikum salam warahmatullah.” Jawabku.
“Apa kabar istriku?”
Deg...deg...jantungku semakin berdebar kencang mendengar seorang lelaki memanggilku dengan sebutan istri.
“Alhamdulillah, sa saya, saya sehat, akhi...”
Dengan terbata-bata aku menjawab pertanyaannya. Rasa canggung masih menyelimutiku. Panggilan apa yang cocok untuk suamiku? Kanda, kang mas, ataukah mas saja? Duh...begitu malunya aku, barusan aku masih menyebutnya “akhi.”
Sejenak kami terdiam dalam suasana canggung.
“Dik, dik Khansa...”
Dalem, mas.” Ku beranikan diri memanggil suamiku dengan sebutan “mas.”
“Semoga adik selalu dalam lindungan-Nya, kami sudah tak sabar menanti hadirmu, dik.”
“Do’akan Khansa, mas, semoga baik-baik saja. Begitu pun mas, semoga selalu dalam limpahan rahmat-Nya.”
“Amiin ya Robb.”
“Insya Allah satu setngah bulan lagi Khansa pulang.”
“Bunda...” terdengar suara Khansa kecil dari seberang.
“Ya, sayang.”
“Bunda cepetan pulang ya, Khansa kangen banget...Nanti ajak Khansa jalan-jalan ya...sama ayah sama bunda...” Celoteh Khansa kecil dengan polosnya.
“Insya Allah, sayang. Do’akan bunda.”

&&&

Hari-hariku kini dilanda rindu, kepada suamiku, kepada sosok Khansa yang lugu. Menanti sebulan rasanya lama sekali. Sebulan lagi aku akan menyudahi aktivitas mengajarku di Darul Ulum. Seseorang yang akan menggantikan posisiku pun telah ada.
Sebentar lagi aku akan tinggal bersama suamiku dan Khansa kecil. Semoga aku bisa menyatu dan cepat beradaptasi dengan mereka. Dengan Khansa yang telah lama menunggu hadirnya sang bunda. Serta aku yang telah lama merindu seorang pengayom yaitu lelaki yang kini telah sah menjadi suamiku.

Hari yang ku tunggu-tunggu pun telah tiba. Aku bersama bu Layla, pak Zainal dan putri bungsunya Niswah tengah mengangkasa. Sembilan jam bersama Saudi Airline. Selama perjalanan itu seakan wajah suamiku dan Khansa kecil tidak hengkang dari pelupuk mataku.
Terdengar petugas mengumumkan jika seluruh passenger harus mengenakan sabuk pengaman, karena sebentar lagi pesawat akan landing . Ku lihat keluar jendela tampak gumpalan-gumpalan asap. Tak lama kemudian tampak luasnya laut berada di bawahku. Subhanallah, antara rasa takjub dan takut bercampur menjadi satu. Bibirku tak lepas melafalkan sholawat dalam diamku.
Kini kurasakan jika roda pesawat telah benar-benar mendarat.
Alhamdulillah...ucap syukurku kepada-Nya. Indonesiaku, aku datang.

&&&

Panasnya suasana Cengkareng kini telah ku rasakan, sebelum tadi di awang-awang suhunya mencapai minus limabelas derajat celsius. Barang-barang dari bagasi telah ku temukan. Aku bersama bu Layla, pak Zainal dan Niswah menuju pintu dua, kedatangan luar negri.

Sesampainya di ambang pintu, terdengar suara anak kecil memanggil “bunda...” Ia mendekat ke arahku. Dialah Khansa. Ku cium lalu ku gendong. Namun ia meminta diturunkan dari gendonganku. Ia menarik tanganku. Didekatkannya aku pada seorang lelaki berkemeja biru muda. Dialah suamiku. Aku menyalaminya. Ku cium tangannya. Dibalasnya aku dengan kecupan kecil di keningku.

Alhamdulillah, tak henti-hentinya aku mengucap syukur. Kini aku tidak lagi sebatang kara. Aku telah menemukan orang-orang yang menanti kehadiranku.
Dua Khansa yang dilanda sepi telah dipertemukan dalam satu atap. Di bawah naungan seorang Nawaf.


-----00000-----

THE END


* Kosa Kata *

Khansain: Dua Khansa
Mukim: Tinggal
Pakaian Ihram: Dua lembar kain berwarna putih tidak berjahit (untuk laki-laki)
Jaros: Bel (bahasa Arab)
Imarah: Tempat tinggal
Tsalajah: Lemari es (Bahasa Arab)
Haromain: Dua tanah Haram (Makkah & Madinah)
Kalamullah: Firman Allah (Al-Qur'an)
Ibtida’: Tingkat dasar
Hafidzoh: Sebutan untuk perempuan yang mampu menghafal alqur’an 30 juzu’
Maslahat: Membawa kebaikan
Do’if: Lemah
Loud Speaker: Dikeraskan suaranya
Ijab Qobul: Serah terima
Mobile: Telephone celuler (hand phone)
Dalem: Sya (bahasa jawa). Sahutan yang halus jika dipanggil
Passenger: Penumpang (bahasa inggris)
Landing: Mendarat (istilah dalam penerbangan)



Al Washa Taif, 15 Jamad Awal 1431 H (29 April 2010 M).

Sunday, March 14, 2010

Balada Anak Singkong

Aku teringat akan pesan emak dulu ketika aku masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah yayasan Al-Islamiyah. Setiap kali aku berangkat sekolah, emak selalu berpesan, “nanti jika kau merasa lapar kencangkan tali sabukmu ya, Nak, emak hanya bisa membekalimu sebotol air putih. Belajar yang rajin ya nak…” “iya, Mak,” jawabku. Kucium tangan beliau lalu aku berpamitan seraya mengucapkan salam untuk berangkat sekolah
Aku keluar dari gubug itu, Gubug mungil terbuat dari bambu di atas tanah petak seluas 10x10 m2, disanalah tempatku tinggal bersama emak. Dengan langkah tegap penuh semangat aku berjalan melewati pesawahan serta ladang-ladang milik para petani. Itulah rutinitasku setiap pagi. Makan sehari sekali pun sudah merupakan nikmat buat kami, hidup ala kadarnya tidak membuatku pesimis atau pun menyesal karena tidak seperti teman-teman yang lain. Emak selalu mengajariku untuk tidak cengeng dalam kondisi apa pun. Banyak orang besar berasal dari lingkungan yang biasa saja. Bahkan rasul penghujung zaman pun kala hidupnya tidak dalam kemewahan.
Celana pendek berwarna hijau dengan baju putih itulah seragamku dulu. Terkadang tampak lusuh, jika ingin membuatnya rapi, kutempelkan baju itu pada sebuah teko/cerek yang terbuat dari alumunium berisikan air panas. Kutempel dan kutempel baju itu hingga lumayan rapi, Aku merasa senang setelahnya karena bajuku tampak sedikit rapi dari sebelumnya. Emak lah yang mengajariku cara seperti itu.
Di kelas itu aku mengenal guru pertamaku, Seorang guru yang mengajarkan kami mengenali aksara, mengejanya satu per satu dalam rangkaian kalimat sederhana. Pak Murtadlo namanya. Walau telah sepuh dengan rambutnya yang telah memutih namun ketelatenan serta kesabaran beliau mengajari kami tak pernah pudar. Dengan semangat beliau mengayuh sepeda ontanya dari kampung sebelah menyusuri jalan-jalan becek yang belum disentuh oleh adonan aspal jika musim penghujan datang.
Beliau pun mengajarkan kepada kami tentang kuasa ilahi melalui syair yang sering kami lantunkan menjelang selesai belajar, dengan kompak dipandu oleh beliau kami melantunkanya:
Man kholaqossama
Kholaqossama Allahul adzim 2x
Sopo sing gawe langit, gusti Allah sing gawe langit
Man kholaqol ardlo
Kholaqol ardlo Allahul adzim 2x
Sopo sing gawe bumi, gusti Allah sing gawe bumi.

Selesai melantunkan syair itu sang ketua memberi komando agar kami berdiri lalu mengucapkan salam, kemudian duduk kembali dengan melafalkan surat Al-ashr. Selesai melafalkan surat itu pak guru mempersilakan kami untuk pulang. Cihuy…senang rasa hati jika mendengar kata pulang, apa lagi jika hari kamis, karena hari itu adalah week end bagi kami.
&&&&&
Siang itu terik mentari lumayan membuat kelopak mataku berkerut. Kupilih jalan-jalan teduh dibawah naungan pepohonan yang berjejer sepanjang jalan itu. Perjalanan pulang usai belajar selama setengah hari tak membuatku lelah dibarengi dengan canda gurau bersama teman-teman sebayaku. Terkadang aksi jail pun muncul, aksi saling dorong dan berkejaran antara kami membuat perjalanan kami semakin asyik. Aku, Amin dan subhan masing-masing mulai berpisah dari jalan pesawahan itu.
Aku berbelok arah melewati area ladang milik ustadz Hasan. Diantara kami bertiga rumah aku lah yang paling jauh. Tampak ustadz Hasan tengah sibuk berkecimpung di ladangnya. Tanaman singkong yang hanya menunggu beberapa bulan setelah ditanam, kini tengah dipanennya.
Aku terus saja berjalan, tiba-tiba suara seseorang mengagetkanku, “Pul…”, aku pun menoleh, ternyata ustadz Hasan lah yang memanggilku. Aku pun menghampirinya.
“ya ustadz.”
“Ini kau bawa pulang,” ucap ustadz Hasan sambil menyodorkan kantong kresek berisikan singkong hasil panennya itu.
“terima kasih ustadz”
“ya sama-sama”
“ustadz, Ipul pingin nanam singkong juga seperti ustadz, gimana caranya?
“Gampang saja, tinggal kau potong-potong saja itu batangnya, lalu disimpan di tempat lembab hingga tumbuh tunasnya, lalu kau tancapkanlah batang yang telah bertunas itu di tanah, tinggal tunggu saja hingga siap di panen.”
“kalau begitu ipul mau mencoba ustadz.”
“Kau ambillah itu beberapa batangnya sana, lakukan seperti apa yang saya jelaskan tadi.”
Diambilah tiga batang singkong oleh ustadz Hasan, lalu diberikannya kepada ipul.
“Makasih banyak ustadz”
“ya…jangan lupa kau harus rajin menyiraminya”

Ustadz Hasan adalah guru ngajiku di Mushola Nurul Huda, setiap habis maghrib aku belajar ngaji bersama teman-teman disana.
&&&
Kupotong potong batang singkong itu menjadi satu ikatan, kudapatkan 15 potongan kecil-kecil sepanjang lebih-kurang 30 cm. Ku letakkan seikat potongan kayu itu dekat sumur di belakang rumah agar aku lebih dekat menyiraminya setiap pagi dan sore. Sesuai dengan pesan ustadz Hasan, aku harus rajin menyiraminya.
Setiap pagi dan sore aku mengamati potongan-potongan kayu itu sambil menyiraminya.
“Bismillahirrohmanirrohiim, pyuuuurrrrr, tunas, cepatlah kau tumbuh” gumamku dalam hati sambil mengguyurkan air pada seikat benih singkong itu.
Rupanya emak mengamati tingkahku sejak aku menemukan teman baruku seikat potongan-potongan kayu itu. Emak pun menanyakan kepadaku kenapa aku begitu asyik dengan benih singkong itu. Aku pun menceritakan pertemuanku dengan ustadz Hasan usai pulang sekolah kemarin.
“Nanti jika akar singkongnya sudah bisa diambil, emak bisa bikin aneka makanan darinya, kali aja kan bisa dijual, biar ipul yang keliling kampung menjualnya”
“Saiful, saiful, cerdas kali kau nak,”
“siapa dulu…ipuuul”
Teman baruku seikat benih singkong selalu ku tengok setiap pagi dan sore tiba. Namanya anak-anak, aku dibuatnya asik dengan penemuan baruku. Aku ingin membuktikan apa yang Ustadz Hasan tuturkan kepadaku tentang kayu-yang yang dapat menghasilkan sumber karbohidrat itu.
&&&
Seperti biasa setiap tahun diadakan acara pekan olah raga dan seni (PORSENI). Setiap sekolah mengirimkan wakilnya untuk setiap cabang Porseni itu. Biasanya siswa-siswi kelas lima dan kelas enam yang disibukkan dengan kegiatan itu.
Ketika itu aku masih duduk dibangku kelas empat. Aku ditunjuk oleh pak Faizin selaku pembimbing dalam bidang tilawatil Qur’an untuk ikut latihan bersama beberapa kandidat yang semuanya adalah kelas enam. Pak Faizin juga lah yang menjadi wali kelasku di kelas empat.

Hari jum’at adalah ajang berkumpulnya umat muslim di masjid-masjid dimana mereka tinggal. Usai sholat jum’at di masjid Baiturrahim siang itu aku bersama Subhan masih duduk di teras masjid itu.
“Saifullah”, terdengar suara pak Faizin memanggilku. Pak Faizin dengan sajadah dipundaknya mendekatiku, “nanti setelah ashar kerumah bapak ya, belajar qiro”.
Beliau yang jebolan pondok pesantren As-Shidiq Narukan Rembang itu memiliki suara merdu dan bacaan Qur’an yang fasih, aku pun mengaguminya. Terkadang sekedar intermezzo di kelas beliau ajarkan kami lantunan ayat Al-Qur’an dengan qiro’atussab’ah.
Sore itu aku dibonceng oleh subhan dengan sepedanya menuju rumah pak Faizin. Sengaja aku mengajak Subhan untuk menemaniku ke rumah Pak guru yang kira-kira berjarak satu kilo meter dari rumahku. Sesampainya di rumah pak guru, kupikir ada anak-anak lain yang akan belajar bersamaku, ternyata hanya aku seorang. Beruntung Subhan mau ku ajak, setidaknya ada teman dalam perjalananku untuk bergantian dalam menggayuh sepeda miliknya.
Dengan telaten beliau mengajariku, Ayat-demi ayat diulang-ulang agar aku benar-benar fasih melafalkan makhroj demi makhroj dan lantunannya tidak melenceng dari tajwidnya. Rupanya akulah yang dijadikan kandidat wakil dari sekolahku untuk acara Porseni itu. Usai latihan itu baru pak guru memberitahuku. Sejak hari itu setiap sehabis ashar aku ke rumah pak guru untuk latihan seminggu menjelang Musabaqoh Tilawatil Qur’an.
&&&
Subuh itu emak membangunkanku, Mengajakku berjamaah di mushola A-Musthofa dekat rumah kami. Usai sholat subuh aku tak sempat menengok tanaman singkongku, Karena usai sekolah kemarin pak Faizin berpesan jika pagi-pagi aku harus ke rumahnya. Aku dan pak guru akan pergi ke kota untuk mengikuti acara MTQ itu. Tampak emak mempersiapkan sarapan, beliau menemaniku menikmati sarapan pagi.
“Jangan lupa berdo’a, semoga tidak grogi saat tampil nanti”
“InsyaAllah mak”.

Aku telah siap dengan celana pendek berwarna hijau dan baju putih dengan peci. Aku langsung meluncur ke rumah pak guru di temani oleh Subhan. Sarung batik pemberian pakdhe hadiah sunatan itu kulipat dan kusimpan di tasku. Usai mengantarkanku Subhan pun pulang karena ia harus mengikuti pelajaran di sekolah seperti biasa.
&&&
Tampak para peserta telah siap disana. Kebanyakan pesrta mengenakan kemeja lengan panjang dan celana panjang Hanya aku sendiri yang mengenakan seragam hijau putih dan bersarung batik layaknya pengntin sunat. Amboi…aku tak tahu jika ternyata tidak harus berseragam sekolah, untungnya bawa sarung jadi kakiku yang tak mulus karena bekas koreng-koreng itu tertutupi. Walau tampak lucu dari penampilan peserta lain. “Ah cuek saja lah,” pikirku dalam hati, niatku hanya ikut meramaikan acara saja.
Undian pemilihan ayat yang akan ditampilkan pun dilakukan, aku kebagian surat Al-Anfal. Pada beberapa sisa waktu yang ada pak guru mengajariku melantunkan surat itu.
Saatnya seluruh peserta berkumpul dan menunggu giliran panggilan untuk tampil.
“Ananda Saifullah dari Madrasah ibtidaiyah Islamiyah” deg, jantungku berdegup, sedikit grogi. Spontan pak guru bertepuk tangan mensuportku, kulihat tak ada penonton lain yang bertepuk tangan kecuali beliau seorang.
“Bismillah, semoga lancar” dalam hati aku berdo’a.
Aku telah berada di panggung itu, sebelum lampu hijau menyala tanda aba-aba untuk mulai, aku dan pak guru saling bertatap, beliau lemparkan senyum kepadaku tanda support supaya aku tidak begitu grogi.
Lampu hijau pun menyala, kulantunkan surat al-anfal ayat satu sampai dengan tiga. Dengan hati-hati dan penuh konsentrasi aku melantunkanya sesuai yang diajarkan oleh pak guru kepadaku. Setiap peserta diberi waktu 15 menit untuk menampilkannya. Lampu merah pun menyala sebagai aba-aba untuk kusudahi tampilanku. Shadaqallahuladziim, Alhamdulillah aku merasa lega, pak guru pun kembali bertepuk tangan atas tampilanku itu.

Detik-detik menunggu pengumuman pemenang pun tiba. Saatnya dewan juri mengumumkan nama-nama pemenang dalam lomba itu untuk maju kedepan. Juara ketiga di raih oleh SD daerah kota kabupaten, Aku lupa siapa nama pesertanya. Juara ketiga diraih oleh SD daerah kecamatan kami, Umar namanya, karena ketika itu aku sempat duduk bareng disampingnya sebelum lomba dimulai.
Kembali pengumuman dari dewan juri.
“Juara pertama diraih oleh nomor undian 17 dari Madrasah Ibtida’iyah Islamiyah...” Aku menengok tanda pengenalku yang menempel di saku sebelah kiri bajuku. Ku lihat nomor peserta 17 tak lain adalah aku. Aku saling beradu pandang dengan Pak Guru yang duduk disampingku. Mendadak jantungku berdebar kencang. Aku sempat tak percaya jika sang juara dalam lomba itu adalah aku. Pak guru pun menyungging senyum penuh ceria sembari bertepuk tangan lalu menyuruhku untuk maju kedepan menerima penghargaan itu. Aku pun naik ke atas panggung dengan penampilan unikku, bersarung diantara mereka yang tampak ramping dan rapi.
Sebagai dokumentasi, panitia mengambil gambar seluruh peserta. Yups, tepatnya foto-foto. Yang berhasil menyabet juara berpose di depan lengkap dengan piala di tangan masing-masing. Alhasil aku yang bak pengantin sunat itu berpose di tengah sebagai pusat perhatian audiens.
&&&
Sore itu selapas lomba Qiroatil Qur’an pak guru mengantarku hingga ke rumah. Tampak emak sedang asyik menata kayu-kayu bakar di halaman rumah. Aku menyalami emak lalu ku cium tangan beliau. Pak guru melempar senyum kepada kami sebelum beliau menggayuh sepeda meninggalkan kami.
Aku tak bisa mengumpat rasa suka cita ini.
“Gimana, Pul, lombanya?”
“Alhamdulillah lancar, Mak.”
“Lancar gimana?”
“Ipul dapat juara satu, Mak.” Jawabku sembari menyodorkan amplop hadiah lomba berisikan uang tunai Rp 25000. Emak turut gembira seraya menciumi aku yang tengah sibuk melepaskan baju seragam sekolah yang kukenakan.
Kembali aku menengok benih-benih singkong yang telah bertunas itu. Pasalnya pagi tadi tidak sempat ku longok dikarenakan tugas yang ku emban mewakili sekolahku. Tampaknya benih-benih itu sudah siap tanam. Tidak menunggu lama untuk menunggu tunas-tunas itu tumbuh. Kira-kira seminggu saja asalkan rajin menyiraminya.
&&&
Lima bulan sudah aku bergelut dengan tanaman singkong di pekarangan rumah. Dalam kurun waktu itu, tidak hanya menanti buahnya saja, namun pucuk daun mudanya pun bisa digunakan sebagai lalapan yang konon mengandung zat besi. Tiba saatnya umbi akar itu siap dipanen. Satu demi satu ku dongkrak akar-akar yang telah membesar itu. Alhamduliullah setelah penantian yang cukup panjang itu akhirnya aku dapat mrnuai hasilnya.
Emak yang cukup kreatif membuat aneka makanan darinya. Salah satunya dibuat seperti mata sapi. Singkong diparut halus, diberi sedikit pewarna menggunakan daun katu biar tampak hijau warnanya. Sebagian yang lain diberi pewarna merah dari pucuk daun jati. Kedua adonan yang telah diwarnai itu dipadukan sehingga tampak menarik. Buah pisang diletakkan ditengahnya dalam balutan daun pisang. Setelah dikukus hingga masak, jadilah kue itu seperti mata sapi setelah dipotong-potong.
Sebagian yang lain dari singkong itu dicampurkan dengan ragi. Lalu didiamkan selama kurang lebih tiga hari untuk menunggu proses fermentasi. Maka jadi lah tape singkong atau biasa disebut peiyem.
Tak lupa ku sisihkan kue dari umbi akar itu kepada ustadz Hasan yang telah membekaliku bakal karbohidrat itu. Aku mencoba keliling kampung untuk menawarkan kue bikinan emak, barangkali saja ada yang berminat membelinya.
Seperti sebelumnya aku pun memilih beberapa batang pohon singkong untuk dijadikan benih. Ku tanam lalu ku tanam sehingga tidak habis begitu saja.

&&&

Friday, November 6, 2009

Zahra Dan Jilbab




Nikmatnya rehat setelah lelah meghampiri Zahra yang kini kian sibuk dengan persiapan skripsinya. Akhir-akhir ini mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan Fakultas kesehatan masyarakat ini sibuk dalam upanya pencarian data baik dari segi literatur maupun research penunjang guna menyelesaikan tugas akhirnya setelah empat tahun menggeluti bidang itu.

Zahra yang kerap dijuluki WTS alias wanita tahan sumuk karena selalu tampil rapi dalam balutan jilbabnya yang menjulur hingga menutupi dada ini tinggal di daerah Umbul Harjo tak jauh dari area kampusnya. Zahra tinggal bersama Farah teman satu costnya yang baru menginjak semester lima, kebetulan mereka sesama mahasiswi FKM. Hari-hariny tak lepas dari bacaan Al-qur’an, setiap selesai sholat wajib ia selalu sempatkan diri untuk membaca kalamullah. Tak heran jika wajahnya tampak cerah oleh cahaya wudu yang selalu ia jaga.

*****

Siang itu hari sabtu selesai dari kegiatan dikampus Zahra berniat mengunjungi neneknya yang tinggal di kabupaten Bantul tak jauh dari tempat wisata Parangtritis. Sekedar untuk merefreh diri ketika penat menyapa sambil merenungi indahnya kuasa Ilah biasanya ia berkunjung kesana. Maklum masa kecilnya banyak ia habiskan di sana bersama saudara-saudara sepupu serta teman kecilnya, sehingga rasa kangen akan suasana laut pun terkadang muncul pada sosok gadis yang kian dewasa ini.

Sesampainya di jalan Paris tepatnya di daerah JOKTENG (Pojok Benteng) Zahra turun dari KOBUTRI lalu beralih kendaraan yang akan mengantarnya menuju rumah dimana tempat neneknya tinggal. Zahra menghampiri ELF yang berjejer paling depan menandakan bahwa kendaraan itu akan segera berjalan. Tampak ada kursi kosong disamping cewek berbaju coklat dengan kuncir rambut dikepalanya yang tengah asyik dengan buku bacaanya “GARA-GARA JILBABKU?”. Senyum kecil Zahra lontarkan kepada gadis itu tanda minta dipersilahkan untuk duduk bersamanya.

“Kelihatanya bacaanya asyik mbak?” ucap Zahra memulai percakapan. Gadis itu hanya senyum simpul menimpali ucapan Zahra.
“Buku baru ya?” lanjut Zahra. “Iya, baru saya dapat dari Gramedia kemarin” jawab gadis itu.
“Kok bukunya tentang jilbab, maaf mbaknya muslimah?”
Gadis itu hanya mengangguk sambil senyum.

Percakapan pun berlanjut antara keduanya. Gadis yang berkuncir itu menceritakan kepada Zahra bahwa ia sebenarnya ingin mengenakan jilbab namun keraguan kadang masih muncul dihatinya, alasan belum siap dan lain-lain terkadang masih hinggap dipikiranya, belum lagi masalah tidak bebas bergerak karena beberapa instansi masih ada yang mencanangkan aturan harus tidak berjilbab jika ingin bergabung dengan instansi itu.

Zahra menanggapi apa yang dituturkan gadis berkuncir itu, bahwa semuanya tergantung pada niat, jika tekad kita kuat untuk menjalankan perintah-Nya mestinya rasa ragu itu harus dibuang jauh-jauh. Jilbab adalah ciri khas muslimah agar dapat dibedakan dari wanita-wanita kafir. Apa seorang muslim mau dikatakan kafir? Tentunya dari hati kecil yang paling dalam akan mengatakan “tidak”. Nah disitulah letaknya kenapa muslimah harus dibedakan bahkan dari segi penampilan pun. Ada suatu hadits yang mengatakan bahwa “barang siapa yang mengikuti suatu golongan, maka orang tersebut termasuk golonganya”. Nah jika tidak ingin dikatakan seperti mereka (wanita-wanita kafir) tentunya cara berpakaian pun hendaknya tidak mengikuti ala mereka yang tidak mengindahkan jilbab. Lagi pula dengan berjilbab tidak akan mengurangi kecantikan seorang muslimah, bahkan tampak lebih anggun dengan berjilbab.

Obrolan yang cukup panjang telah berlanjut namun mereka lupa saling memperkenalkan diri masing-masing.

“Maaf kalau boleh saya tahu nama mbak siapa?” tanya gadis yang berkuncir itu
“Zahra”…”Namamu?” Zahra berbalik tanya kepada gadis yang berkuncir itu.
“nama saya Firdausi, biasa dipanggil Firda”
“Nama yang bagus” sanjung Zahra kepada Firda
“Saya tinggal di Jokteng, kapan-kapan mbak Zahra bisa mampir ke tempat saya”
“InsyaAllah” ucap Zahra.

Firda mahasiswi politeknik kesehatan Yogyakarta jurusan analis kesehatan kerap kali mengunjungi perpustakaan umum terdekat. Penampilanya yang selalu rapi namun belum dibalut oleh jilbab, ia masih ragu untuk menutup mahkotanya dengan kain penutup dengan alasan belum siap. Padahal ia tahu jika seharusnyalah jilbab dikenakan oleh seorang muslimah.

*****

Rumah nenek Zahra sudah semakin dekat, Zahra berpamitan kepada Firda untuk turun duluan, sedangkan Firda masih melanjutkan perjalananya menuju kampung sebelah untuk penelitian tentang kadar air laut guna melengkapi tugas kampusnya.

Sesampainya di rumah nenek tampak nenek tengah menikmati hawa sore dihalaman rumahnya yang dipenuhi oleh pepohonan melinjo disana. Sedangkan kakeknya tengah asyik memberi makan ikan-ikan lele pada kolam berukuran 2 x 3 itu.

“Assalamualaikum” sapa Zahra kepada neneknya
“Waalaikum salam warahmatullah” jawap nenek sambil menyambut cucu cantikya itu.
“piye kabarmu nduk? Mbah kangen”
“Alhamdulillah, Zahra sae mbah”

Peluk dan cium menyambut haru pertemuan itu karena cukup lama Zahra tidak menengok neneknya, persiapan tugas akhir memang cukup menyita waktu Zahra sehingga hampir tiga bulan ia tidak mengunjungi neneknya. Biasanya setiap dua minggu sekali Zahra menghabiskan week end di Bantul, alih-alih dari pada jauh pulang ke Kudus sehingga ia gunakan untuk berkunjung kepada nenek.

*****

Rupanya Firda masih terngiang-ngiang dengan kalimat-kalimat yang diucapkan Zahra sepanjang perjalanan kemarin. Pagi itu usai megunjungi perpustakaan dikampusnya Firda meluncur ke Umbul Harjo sekedar main ke tempat Zahra. UAD tampak tak jauh dari pandanganya, Firda mencoba menghubungi Zahra.

Ditdit…ditdit…Tanda ada SMS masuk di poncell Zahra, “mb’Zahra lg dmn?, sy skrg di UAD dpan pntu utama”…sender : Firda

Zahra yang tengah asyik dengan komputernya ditemani irama nasyid Raihan al-I’tiraf segera menuju pintu utama kampus UAD. Dijumpainya Firda yang tengah menunggu dirinya sambil menikmati terik mata hari siang itu.

“Assalamualaikum” sapa Zahra kepada Firda
“Waalaikum salam” jawab Firda

Kemudian Zahra mengajak Firda ke tempat Costnya. Terlihat Farah telah mempersiapkan jamuan alakadarnya untuk Firda. “adekku yang satu ini memang pengertian” Canda Zahra kepada Farah. “Iya dong…” lanjut Farah.

“Ayo diminum Firda” ucap Zahra mempersilahkan Firda.

Obrolan antara mereka pun berlanjut, suasana pukul 14.00 lumayan panas, namun nikmatnya es kelapa muda yang mengalir dikerongkongan dapat menghilangkan dahaga itu. Kembali kepada niat Firda untuk berjilbab. Terlihat keseharian Zahra dan Farah anggun dalam balutan jilbab yang menjulur menutupi dada, “sedang aku masih belum mengenakanya” gumam Firda dalam hati.

Zahra membuka lemarinya mengambil jilbab kesukaanya, diberikanya jilbab itu kepada Firda dengan senyum manis Zahra berkata “ambillah ini Firda, ini jilbab kesukaanku, semoga keraguan itu segera hilang dari benakmu dan untuk melaksanalan niat baik, hendaknya jangan di tunda-tunda”

“InsyaAllah” ucap Firda sambil menerima jilbab pemberian Zahra.

“Dengan berjilbab kamu akan tampak indah seindah namamu…Firdausi…semoga kelak kita akan dipertemukan di surga Firdaus nanti”

“Amiin” ucap Farah mengamini kata-kata Zahra

*****

Pagi Itu sekitar pukul 07.00 Zahra tengah mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus, ketika itu Farah tidak sedang bersamanya. Tiba-tiba ia dapati benda-benda diruangan itu berjatuhan, computer pun bergeser hingga jatuh dari tempatnya. Zahra tampak bingung dengan keadaan ini, “ada apa ini?” gumamnya dalam hati. Terdengar teriakan-teriakan dari luar, dilongoknya suasana luar dari jendela, tampak terdengar teriakan “gempa…Allahuakbar…” serta teriakan-teriakan lain yang tak terdengar jelas. Seketika itu Zahra pun cepat-cepat buka pintu lalu keluar berlarian bersama orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri.

Ditengah upayanya berlari untuk menyelamatkan diri Zahra tersadar ternyata mahkotanya tidak tertutup oleh jilbab, seketika itu ia berbalik arah berlari cepat guna mengambil jilbab ditempatnya tinggal. Baru saja ia menggapai jilbabnya Zahra tak dapat lagi keluar bersama reruntuhan bangunan akibat goncangan yang dahsyat itu. Nyawanya tak dapat diselamatkan, demi mempertahankan jilbabnya Zahra rela
menyerahkan dirinya kepada yang maha kuasa.

Betapa amat sedihnya Farah ketika mendapati jenazah Zahra masih tetap dalam balutan jilbabya setelah efakuasi yang dilalukan oleh beberapa tim sukarelawan.

Seminggu setelah kejadian itu Firda berusaha menghubungi Zahra namun poncellnya tidak dapat dihubungi. Akhirnya Firda mencoba menghubungi poncell Farah, dan kabar yang amat sangat mengejutkan bagi Firda. Baru saja Firda melaksanakan niat baiknya untuk berjilbab karena tertegun dengan bahasa-bahasa yang disampaikan Zahra dalam perjalanan lalu dan dalam pertemuanya yang belum lama ini. Firda teringan akan kata-kata terakhir Zahra “semoga kelak kita akan dipertemukan di surga Firdaus nanti”.

*****

Thaif, 19 Dzulqo’dah 1430 H. Di keheningan malam ditemani nasyid Al-I’tiraf (sebuah pengakuan) oleh Raihan.

Monday, November 2, 2009

Ujung Cita Yang Bicara


Tak henti-hentinya kupandangi wajah ayu pelipur laraku. Bunda …semoga engkau damai disana, semoga engkau mendapat tempat yang mulia bersama orang-orang yang dimuliakan-Nya. Kusapu air mataku yang jatuh membasahi gambar ayu bundaku, ku dekap erat-erat bingkai itu seakan aku mendekap tubuh wangi bundaku tercinta. Ku ciumi wajah ayu itu, maafkan aku bunda, aku yang tak sempat menciummu disaat-saat terakhirmu, aku yang tak sempat melihat tubuhmu terbujur kaku.

Aku tak kuasa membendung tangisku kala ingatanku terbesit akan beliau yang ayu nan lugu. Duhai bunda, hanya do’a yang bisa kupanjatkan untukmu, semoga do’aku bisa menjadi amalan yang tak terputus untukmu. Maaafkan aku bunda, aku yang tak sempat melihatmu tersenyum manis tuk wujudkan citamu. Cita-cita kaum mislimin yang mulia untuk melaksanakan rukun islam yang kelima.

Kringgggggg…suara weker membuatku terperanjat dari lamunanku, kupandangi jarum jam telah menunjukan pukul 03.03, alarm yang telah kupasang sebelum kupejamkan mataku namun aku telah terbangun satu jam sebelum weker itu berbunyi. Mimpi itu membangunkanku dari tidur lelapku, mimpi bertemu bunda tersayang di suatu tempat yang luas serta rindang, beliau tersenyum padaku, kusalami beliau, ku peluk lalu ku cium, betapa rindu ini tak tepri ingin sekali rasanya aku berada didekatnya.

*****

Beberapa minggu sebelum kejadian itu ingatanku selalu terbesit akan wajah ayunya, lemah gemulainya, kesabaranya menjalani hidup sebagai single parent setelah kepergian suami tercintanya. Betapa telaten beliau mendidik kami, predikat janda dalam usia masih muda tidak membuatnya tergoda dengan lelaki yang beberapa kali meminangnya, dengan bahasa halus beliau tuturkan alasan untuk tidak menerima pinangan-pinangan itu. “maaf, saya menjaga amanah dari almarhum suami saya agar selalu dekat dengan anak-anak, dan saya pun ingin mendapat ridlo dari sang suami”. Itulah alasan yang selalu beliau lontarkan jika ada lelaki yang datang meminag. Aduhai bunda, halus nian tutur katamu. Walau terkadang kalimat-kalimat cemooh pun muncul mengarah pada janda muda separuh baya itu, istilah sok jaim dan lain-lain terkadang muncul dari laki-laki yang pernah meminangnya, belum lagi sebutan sebagai wanita penggoda oleh wanita yang merasa jealous kepadanya. Namun beliau tetap sabar menghaadapinya. Aku kagum akan sikap beliau yang begitu tegar, sabar dalam menghadapi cobaan. Tak salah ayahku memilih beliau sebagai istrinya. Beliau yang pernah belajar di pesantren Buya Hamka selama delapan tahun, kini kesehariannya mengisi kajian kepada ibu-ibu pengajian di surau dekat rumah kami.

Siang itu aku ke dapur, kucoba menirukan masakan ala bundaku “asam pedas” khas Sumatera barat. Wuihhh mantap memang, rasanya cukup membakar lidahku. Itulah yang kulakukan jika rindu ini muncul akan bunda, dalam menikmati hidangan itu aku senyum sendiri seakan bunda sedang ikut mencicipi masakanku sehingga sedikit kangenku terobati. “Bunda…sedang apakah kau disana? Semoga engkau baik-baik saja dan selalu dalam limpahan rahmat-Nya.”

Satu keinginan bunda yang belum terlaksana, ingin menginjakan kaki ke tanah suci. Ketika kutanya “apa keinginan bunda?” dengan polosnya beliau menjawab, “bunda ingin naik haji nak.” Mendengar jawaban beliau hatiku terenyuh, akankah aku bisa mewujudkan cita-cita mulianya?... Aduhai, sejak aku tahu betapa beliau ingin sekali menyempurnakan rukun islam, sejak itu pula aku selalu panjatkan do’a dalam setiap sujud terakhirku “ya Robb, wajibkan ibu saya haji.”

Bunda, bunda oh bunda, rasanya rindu ini semakin tak teperi, aduhai…kucoba bermain dengan tinta, ku goreskan kata-kata tentangnya.

# Siapakah dia ???

Dia yang menggendongmu selama Sembilan bulan
Dia yang melahirkanmu ke dunia
Dia yang merawatmu
Dia yang meninabobokanmu ketika kau sulit terlelap
Dia yang menghiburmu ketika kau kau menangis
Dia yang terjaga dimalam hari ketika mendengar tangismu
Dia sosok yang ayu…penuh kasih padamu

Tidak kah kau ingat ketika dia menitikan air mata karena ulahmu?
Tidakkah kau malu akan itu?
Mana wujud terima kasihmu?
Sedang surga dibawah telapak kakinya…

Lihat !!!
Lihatlah lekat lekat
Dia yang semakin hari semakin keriput
Dia yang semakin hari semakin lemah
Semakin lemah menopang tubuhnya yang kian membungkuk
Adakah kau disisihnya dikala dia tengah lemah

Duhai jiwa yang berhati…
Dimana kau saat ini?
Masihkah kau ingat akan dia???

*****

Hari ini Thaif begitu mendung semendung hatiku, entah apa yang terjadi rasanya hati ini gundah tak menentu, kucoba menghibur diri, ah mungkin ini hanya perasaan selintas saja dan semoga akan segera hilang rasa ini. Aku bersiap-siap berangkat dinas pagi bersama si ceriwis Faiq yang suka menggodaku. “Uni Rahma kok tampak lesu gitu, tidak seperti biasanya, ada apa uni?” celetuk Faiq memulai percakapan sambil menunggu bus jemputan pagi itu. “Ah tak apa kok” jawabku sekenanya. Bus jemputan pun datang membawa kami menuju arena praktek Subra street tepatnya di Children hospital. Entah hari itu perasaanku semakin galau saja, sepertinya hari itu aku tak semangat bergelut dengan tugas. Meski demikian aku harus tetap berkonsentrasi karena yang ku hadapi bukanlah benda mati melainkan makhluk hidup yang sedang dalam derita. Manusia-manusia kecil terbaring lemah menahan sakit, keadaan itu membuat para dewasa berfikir bahwa derita atau lebih tepatnya peringatan atau uji kesabaran itu tidak memandang usia. Manusia-manusia kecil yang tidak berdosa pun ditimpa derita yang cukup berat, kasihan memang. Disinilah dapat diambil pelajaran bahwa sehat adalah nikmat.

Sepulang dinas aku memutar MNC (the Indonesian chanel) melihat berita negeri tercinta disana. Gempa Sumatera Barat Pariaman, dag dig dug derrrrr, perasaanku semakin tak karuan, apakah ini ada hubunganya dengan perasaanku seharian in i?...cepat cepat ku ambil handpone dengan tangan gemetar klik kontak, kucari daftar nama bunda…nada putus ptus yang aku dapat, ku coba hubungi Farah adikku pun dengan nada yang sama tutututut. Ya Robb, ya Robb, ya Robb…berilah ketenangan pada hamba.

Hari-hari ku semakin glisah, tiga hari sudah aku tidak dapat menghubungi sanak familiku, belum ada kabar baru yang ku dapat, hanya terlihat dari layar televisi Pariamanku kini porak-poranda. Tak puas dengan berita dari MNC, kucoba cari situs-situs internet yang memuat tentang kabar itu. Pikiranku sunggu buntu, siapa lagi yang hendak aku hubungi? Saudara, kawan, semua tak dapat dihubungi, Aku hanya bisa pasrah kepada-Nya.

*****

Lima hari sudah kejadian itu berlalu, aku tengah asik bermain dengan komputerku, handponeku tertinggal di ruang Tv. Saat itu Faiq dan kawan-kawan sedang asik bersama ketoprak Humor di MNC, tiba-tiba suara Faiq mengagetkanku “uni…..ada telephon dari paman Haekal”, Aku bergegas memburu handponeku, Salam dan kabar kutanyakan kepadanya, dengan suara terbata-bata paman Haekal berbicara “Nak Rahma yang sabar ya, Ibumu telah tiada.” “Innalillahi wainnailaihi Roji’uun” Spontan aku jatuh terduduk teringat wajah bundaku serta bangunan hitam di Makkah Pusat Qiblat seluruh umat islam. Ya Robb ibuku belum sempat kesana, kenapa engkau telah menjemputnya… Isak tangis tak dapat ku bendung, seakan dunia runtuh ketika itu. Faiq dan yang lainya berusaha menenangkanku, dengan tanpa kata mereka membiarkan tangisku, membiarkan aku bersandar dibahunya, Sementara yang lain meletakkan tangganya dipundakku berusaha menenangkanku.

Keesokan harinya mataku masih tampak sembab, aku tidak dapat menyembunyikan kesedihan yang membuncah ini, kebetulan hari ini jadwalku libur, setidaknya mata sembabku ini masih bisa ku umpat dari lingkungan kerja. Menurut cerita paman Haekal ketika itu sekitar pukul lima sore bundaku baru saja selesai mengisi kajian di surau ba’da sholat ashar lalu gempa terjadi. Paman Haekal tinggal di Bukit Tinggi Alhamdulillah keluarganya selamat dari gempa itu, sedangkan beberapa saudara yang tinggal di Pariaman masih belum belum ditemukan.

Aku menceritakan kepada paman Haekal melalui telephone bahwa keinginan bunda belum terlaksana tapi sudah diniatkan, beliau telah mendaftarkan diri untuk ONH namun baru dapat kursi tahun 2010 nanti, memang untuk daerah sumatera barat ini setelah lima tahun baru dapat kursi, saking banyaknya jamaah yang berminat ke tanah suci. Aku belum sempat melihat bunda tersenyum atas cita-cita mulianya itu namun beliau telah terpanggil. Paman Haekal berusaha menjelaskan agar aku tidak kecewa atas itu, “Allah mencatat setiap kebaikan dan keburukan maka siapa yang ingin melaksanakan suatu dan tak jadi melakukanya, Allah telah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan yang sempurna, dan jika ia ingin melakukan kemudian melaksanakanya, Allah menuliskan untuknya 10 kebaikan hingga digandakan menjadi 700 kali dan bahkan lebih banyak dari itu, dan jika ia ingin melakukan amal keburukan dan tidak jadi melaksanakanya, Allah menuliskan baginya suatu kebaikan yang sempurna, dan jika ia melakukanya Allah menuliskan satu dosa untuknya” (Muttafaq ‘alaih, dikutip dari Riyadhus Shalihin).

*****

#Thaif, Dzulqo'dah 1430 H. Dalam imajinasi menunggu waktu subuh.
(sumbangan judul oleh k'TaQ)

Wednesday, September 30, 2009

Mata Mata Itu


Mata mata itu memandang seakan tak berkedip
Aku bertanya pada diriku
Ada apa dengan diriku?
Adakah sesuatu yang aneh dalam diriku?
Apakah diri ini asing dalam pandangan mereka?
Ah aku tak peduli dengan mata mata itu


Aku terus berjalan dan berjalan
Berjalan di kerumunan mata mata
Sampai akhirnya kakiku terhenti di tempat sepi
Kulihat tak jauh dari pandanganku
Ada pantulan cahaya dari sebuah cermin
Kudekati cermin itu


Aha...kini kutahu kenapa mata mata itu memmandangku seakan tak berkedip
Kudapati wajahku penuh noda
Noda hitam kelam...
Hitam kelam menghiasi wajahku akibat goresan arang
Ya...arang hitam


Namun mata mata itu tidak bicara
Mereka hanya memandangku saja
Cermin...
Terima kasih cermin
Kau tunjukan padaku goresan goresan hitam di wajahku


Aku berjalan dan terus berjalan
Kubiarkan cermin mungil itu menemani langkahku
Suara suara itu...
Aku mendengarnya
Suara gemericik air tak jauh dari arahku
Kucoba dekati suara suara itu
Dekat dan semakin dekat


Kudapati telaga dengan gemericik air jernih disana
Aha...air...
Kusapu goresan goresan hitam di wajahku dengan air
Pyar...pyur...pyar...pyur...suegerrr


Teman mungilku...
Aku teringat akan teman mungilku
Cermin...
Wahai cermin...Masih adakan goresan goresan hitam di wajahku???
Cling...
Habis sudah goresan goresan hitam itu


Aku berjalan dan terus berjalan
Sampai pada kerumunan mata mata lagi
Namun mata mata itu tak lagi peduli padaku
Dalam kerumunan mata mata itu
Kudapati sepasang mata memandangku
Ia Tunjukan manisnya lengkung bibir padaku


*****


#Thaif 11 Syawal 1430 H

Wednesday, September 23, 2009

Senja Di Laut Merah



Seorang ayah bersama putrinya bercakap ria sambil menikmati hawa sore di bibir pantai Laut Merah sambil menyaksikan deburan ombak,ceria burung-burung mengepakkan sayapnya bersuka ria agungkan Dia. Hembusan angin kencang pun mengiringi suasana itu membuat jilbab Zainab berkibar-kibar. Sore yang indah, di bibir pantai itu terdapat masjid konon sebagian orang menyebutnya "masjid terapung" karena jika tampak dari jauh seperti terapung di atas air.

Ayah : Nak, tahukah kamu apa tugas orang tua terhadap anaknya?
Zainab : Apa ayah? (sambil menengok ke wajah ayahnya)
Ayah : Memberi nama yang baik, memberi pendidikan lalu menikannya.
Kira-kira tugas apa lagi yang belum ayah lakukan untukmu nak?
Zainab : (Zainab tersenyum, ia mengerti maksud pembicaraan ayahnya)
Ayah : Kenapa kau tersenyum nak...sudah berapakah usiamu sekarang?
Zainab : Dua puluh empat tahun ayah...
Ayah : Sudah siapkah kau menempuh hidup baru?
Zainab : (terdiam lalu ia tundukan pandangannya)
Ayah : Adakah kau temukan seorang ikhwan yang cocok dihatimu nak? bolehkah ayah
tahu siapa dia?
Zainab : Zainab belum berani mengungkap ayah...
Ayah : Kenapa nak? berterusteranglah pada ayahmu ini.
Hanya yang ayah pinta, ayah menginginkan seseorang yang berjiwa santri. itu
saja.
Zainab : Adakah Ayah punya pilihan untuk Zainab?
Ayah : Itu tergantung padamu nak...kalau pun ada seseorang yang cocok menurut ayah,
tapi apakah ia cocok menurutmu? ayah belum tahu...makanya ayah tanyakan
padamu.
pria seperti apakah dalam kriteriamu nak? berkedudukan tinggi kah, berharta melimpah kah?

Zainab : Kedudukan bisa diraih dengan prestasi ayah, harta bisa dicari. Namun apalah artinya kedudukan dan harta tanpa disetir dengan akhlaq yang baik dan hati yang lembut. Seseorang tidak akan dihormati karena kedudukan serta hartanya jika akhlaqnya buruk dan berhati keras, ia tidak akan bisa memenej kedudukan dan hartanya itu. bahkan ia memanfaatkan kedudukanya untuk berbuat sewenang-wenag. Lain halnya jika ia memiliki akhlaq baik dan berhati lembut, tanpa minta disegani pun orang akan menghormatinya.
Zainab menginginkan seseorang yang berakhlaq baik ayah...yang mencintai Zainab karena Allah, buka karena kedudukan atau harta karena Zaenab bukan keturunan raja atau sultan. Zaenab adalah putri ayah, yang telah ayah didik secara religius...Zainab bangga jadi putri ayah.

Ayah : (diusapnya kepala Zainab tanda sayang)
Zainab : Ayah...bolehkah seorang perempuan menanyakan mahar kepada calon mempelai pria?
Ayah : Baiknya itu sesua dengan yang ia mampu nak...mahar apakah yang kau harapkan nak, nominal yang tinggi kah, harta yang melimpah kah?
Zainab : bukan ayah, bukan itu...
Ayah : lalu apa nak?
Zainab ingin mahar yang lain dari pada yang lain, tidak berupa nominal atau pun bentuk keduniaan yang lain.
Ayah : Apa itu nak?
Zainab : Zainab ingin sesuatu yang spesial ayah...Zainab ingin maharnya berupa ayat suci Al-Qur'an. Mempelai pria membacakan ayat suci Al-Qur'an untuk Zainab...dengan makhroj yang fasih...masyaAllah indahnya... Lalu setelah Zainab sah menjadi istrinya, ia ajarkan isi dan kandungan ayat tersebut kepada Zainab.
Itulah yang ada dalam angan Zainab ayah...
Ayah : MasyaAllah
Zainab : Surat apakah yang bagus ayah?
Ayah : (tertegun mendengar penuturan putrinya)
Zainab : Hmmm...ayah...surat Ar-Rahman...
Ya Zainab ingin dibacakan surat Ar-Rahman sebagai mahar dalam akad nikah Zainab nanti.
Ayah : (tersenyum bahagia akan penuturan putrinya itu)
Zainab : Do'akan Zainab ayah, semoga Allah pertemukan Zainab dengan cinta sejati Zainab yang tulus ikhlas karena Allah.
Ayah : Amiin...ayah bangga padamu nak...putri ayah memang cantik, semoga hatimu pun cantik nak...(sambil mengusap kepala Zainab tanda sayang, bangga serta haru akan segala penuturan putrinya itu)
Zainab : (tersenyum)...hari sudah semakin senja ayah...ayo kita pulang...
(keduanya beranjak lalu meninggalkan tempat itu)


*****


# Thaif, 4 Syawal 1430 H
Dalam renungan @ inaya almurakazah, disela-sela tugas ketika suasana tidak begitu menyibukkan.