Sunday, March 14, 2010

Balada Anak Singkong

Aku teringat akan pesan emak dulu ketika aku masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah yayasan Al-Islamiyah. Setiap kali aku berangkat sekolah, emak selalu berpesan, “nanti jika kau merasa lapar kencangkan tali sabukmu ya, Nak, emak hanya bisa membekalimu sebotol air putih. Belajar yang rajin ya nak…” “iya, Mak,” jawabku. Kucium tangan beliau lalu aku berpamitan seraya mengucapkan salam untuk berangkat sekolah
Aku keluar dari gubug itu, Gubug mungil terbuat dari bambu di atas tanah petak seluas 10x10 m2, disanalah tempatku tinggal bersama emak. Dengan langkah tegap penuh semangat aku berjalan melewati pesawahan serta ladang-ladang milik para petani. Itulah rutinitasku setiap pagi. Makan sehari sekali pun sudah merupakan nikmat buat kami, hidup ala kadarnya tidak membuatku pesimis atau pun menyesal karena tidak seperti teman-teman yang lain. Emak selalu mengajariku untuk tidak cengeng dalam kondisi apa pun. Banyak orang besar berasal dari lingkungan yang biasa saja. Bahkan rasul penghujung zaman pun kala hidupnya tidak dalam kemewahan.
Celana pendek berwarna hijau dengan baju putih itulah seragamku dulu. Terkadang tampak lusuh, jika ingin membuatnya rapi, kutempelkan baju itu pada sebuah teko/cerek yang terbuat dari alumunium berisikan air panas. Kutempel dan kutempel baju itu hingga lumayan rapi, Aku merasa senang setelahnya karena bajuku tampak sedikit rapi dari sebelumnya. Emak lah yang mengajariku cara seperti itu.
Di kelas itu aku mengenal guru pertamaku, Seorang guru yang mengajarkan kami mengenali aksara, mengejanya satu per satu dalam rangkaian kalimat sederhana. Pak Murtadlo namanya. Walau telah sepuh dengan rambutnya yang telah memutih namun ketelatenan serta kesabaran beliau mengajari kami tak pernah pudar. Dengan semangat beliau mengayuh sepeda ontanya dari kampung sebelah menyusuri jalan-jalan becek yang belum disentuh oleh adonan aspal jika musim penghujan datang.
Beliau pun mengajarkan kepada kami tentang kuasa ilahi melalui syair yang sering kami lantunkan menjelang selesai belajar, dengan kompak dipandu oleh beliau kami melantunkanya:
Man kholaqossama
Kholaqossama Allahul adzim 2x
Sopo sing gawe langit, gusti Allah sing gawe langit
Man kholaqol ardlo
Kholaqol ardlo Allahul adzim 2x
Sopo sing gawe bumi, gusti Allah sing gawe bumi.

Selesai melantunkan syair itu sang ketua memberi komando agar kami berdiri lalu mengucapkan salam, kemudian duduk kembali dengan melafalkan surat Al-ashr. Selesai melafalkan surat itu pak guru mempersilakan kami untuk pulang. Cihuy…senang rasa hati jika mendengar kata pulang, apa lagi jika hari kamis, karena hari itu adalah week end bagi kami.
&&&&&
Siang itu terik mentari lumayan membuat kelopak mataku berkerut. Kupilih jalan-jalan teduh dibawah naungan pepohonan yang berjejer sepanjang jalan itu. Perjalanan pulang usai belajar selama setengah hari tak membuatku lelah dibarengi dengan canda gurau bersama teman-teman sebayaku. Terkadang aksi jail pun muncul, aksi saling dorong dan berkejaran antara kami membuat perjalanan kami semakin asyik. Aku, Amin dan subhan masing-masing mulai berpisah dari jalan pesawahan itu.
Aku berbelok arah melewati area ladang milik ustadz Hasan. Diantara kami bertiga rumah aku lah yang paling jauh. Tampak ustadz Hasan tengah sibuk berkecimpung di ladangnya. Tanaman singkong yang hanya menunggu beberapa bulan setelah ditanam, kini tengah dipanennya.
Aku terus saja berjalan, tiba-tiba suara seseorang mengagetkanku, “Pul…”, aku pun menoleh, ternyata ustadz Hasan lah yang memanggilku. Aku pun menghampirinya.
“ya ustadz.”
“Ini kau bawa pulang,” ucap ustadz Hasan sambil menyodorkan kantong kresek berisikan singkong hasil panennya itu.
“terima kasih ustadz”
“ya sama-sama”
“ustadz, Ipul pingin nanam singkong juga seperti ustadz, gimana caranya?
“Gampang saja, tinggal kau potong-potong saja itu batangnya, lalu disimpan di tempat lembab hingga tumbuh tunasnya, lalu kau tancapkanlah batang yang telah bertunas itu di tanah, tinggal tunggu saja hingga siap di panen.”
“kalau begitu ipul mau mencoba ustadz.”
“Kau ambillah itu beberapa batangnya sana, lakukan seperti apa yang saya jelaskan tadi.”
Diambilah tiga batang singkong oleh ustadz Hasan, lalu diberikannya kepada ipul.
“Makasih banyak ustadz”
“ya…jangan lupa kau harus rajin menyiraminya”

Ustadz Hasan adalah guru ngajiku di Mushola Nurul Huda, setiap habis maghrib aku belajar ngaji bersama teman-teman disana.
&&&
Kupotong potong batang singkong itu menjadi satu ikatan, kudapatkan 15 potongan kecil-kecil sepanjang lebih-kurang 30 cm. Ku letakkan seikat potongan kayu itu dekat sumur di belakang rumah agar aku lebih dekat menyiraminya setiap pagi dan sore. Sesuai dengan pesan ustadz Hasan, aku harus rajin menyiraminya.
Setiap pagi dan sore aku mengamati potongan-potongan kayu itu sambil menyiraminya.
“Bismillahirrohmanirrohiim, pyuuuurrrrr, tunas, cepatlah kau tumbuh” gumamku dalam hati sambil mengguyurkan air pada seikat benih singkong itu.
Rupanya emak mengamati tingkahku sejak aku menemukan teman baruku seikat potongan-potongan kayu itu. Emak pun menanyakan kepadaku kenapa aku begitu asyik dengan benih singkong itu. Aku pun menceritakan pertemuanku dengan ustadz Hasan usai pulang sekolah kemarin.
“Nanti jika akar singkongnya sudah bisa diambil, emak bisa bikin aneka makanan darinya, kali aja kan bisa dijual, biar ipul yang keliling kampung menjualnya”
“Saiful, saiful, cerdas kali kau nak,”
“siapa dulu…ipuuul”
Teman baruku seikat benih singkong selalu ku tengok setiap pagi dan sore tiba. Namanya anak-anak, aku dibuatnya asik dengan penemuan baruku. Aku ingin membuktikan apa yang Ustadz Hasan tuturkan kepadaku tentang kayu-yang yang dapat menghasilkan sumber karbohidrat itu.
&&&
Seperti biasa setiap tahun diadakan acara pekan olah raga dan seni (PORSENI). Setiap sekolah mengirimkan wakilnya untuk setiap cabang Porseni itu. Biasanya siswa-siswi kelas lima dan kelas enam yang disibukkan dengan kegiatan itu.
Ketika itu aku masih duduk dibangku kelas empat. Aku ditunjuk oleh pak Faizin selaku pembimbing dalam bidang tilawatil Qur’an untuk ikut latihan bersama beberapa kandidat yang semuanya adalah kelas enam. Pak Faizin juga lah yang menjadi wali kelasku di kelas empat.

Hari jum’at adalah ajang berkumpulnya umat muslim di masjid-masjid dimana mereka tinggal. Usai sholat jum’at di masjid Baiturrahim siang itu aku bersama Subhan masih duduk di teras masjid itu.
“Saifullah”, terdengar suara pak Faizin memanggilku. Pak Faizin dengan sajadah dipundaknya mendekatiku, “nanti setelah ashar kerumah bapak ya, belajar qiro”.
Beliau yang jebolan pondok pesantren As-Shidiq Narukan Rembang itu memiliki suara merdu dan bacaan Qur’an yang fasih, aku pun mengaguminya. Terkadang sekedar intermezzo di kelas beliau ajarkan kami lantunan ayat Al-Qur’an dengan qiro’atussab’ah.
Sore itu aku dibonceng oleh subhan dengan sepedanya menuju rumah pak Faizin. Sengaja aku mengajak Subhan untuk menemaniku ke rumah Pak guru yang kira-kira berjarak satu kilo meter dari rumahku. Sesampainya di rumah pak guru, kupikir ada anak-anak lain yang akan belajar bersamaku, ternyata hanya aku seorang. Beruntung Subhan mau ku ajak, setidaknya ada teman dalam perjalananku untuk bergantian dalam menggayuh sepeda miliknya.
Dengan telaten beliau mengajariku, Ayat-demi ayat diulang-ulang agar aku benar-benar fasih melafalkan makhroj demi makhroj dan lantunannya tidak melenceng dari tajwidnya. Rupanya akulah yang dijadikan kandidat wakil dari sekolahku untuk acara Porseni itu. Usai latihan itu baru pak guru memberitahuku. Sejak hari itu setiap sehabis ashar aku ke rumah pak guru untuk latihan seminggu menjelang Musabaqoh Tilawatil Qur’an.
&&&
Subuh itu emak membangunkanku, Mengajakku berjamaah di mushola A-Musthofa dekat rumah kami. Usai sholat subuh aku tak sempat menengok tanaman singkongku, Karena usai sekolah kemarin pak Faizin berpesan jika pagi-pagi aku harus ke rumahnya. Aku dan pak guru akan pergi ke kota untuk mengikuti acara MTQ itu. Tampak emak mempersiapkan sarapan, beliau menemaniku menikmati sarapan pagi.
“Jangan lupa berdo’a, semoga tidak grogi saat tampil nanti”
“InsyaAllah mak”.

Aku telah siap dengan celana pendek berwarna hijau dan baju putih dengan peci. Aku langsung meluncur ke rumah pak guru di temani oleh Subhan. Sarung batik pemberian pakdhe hadiah sunatan itu kulipat dan kusimpan di tasku. Usai mengantarkanku Subhan pun pulang karena ia harus mengikuti pelajaran di sekolah seperti biasa.
&&&
Tampak para peserta telah siap disana. Kebanyakan pesrta mengenakan kemeja lengan panjang dan celana panjang Hanya aku sendiri yang mengenakan seragam hijau putih dan bersarung batik layaknya pengntin sunat. Amboi…aku tak tahu jika ternyata tidak harus berseragam sekolah, untungnya bawa sarung jadi kakiku yang tak mulus karena bekas koreng-koreng itu tertutupi. Walau tampak lucu dari penampilan peserta lain. “Ah cuek saja lah,” pikirku dalam hati, niatku hanya ikut meramaikan acara saja.
Undian pemilihan ayat yang akan ditampilkan pun dilakukan, aku kebagian surat Al-Anfal. Pada beberapa sisa waktu yang ada pak guru mengajariku melantunkan surat itu.
Saatnya seluruh peserta berkumpul dan menunggu giliran panggilan untuk tampil.
“Ananda Saifullah dari Madrasah ibtidaiyah Islamiyah” deg, jantungku berdegup, sedikit grogi. Spontan pak guru bertepuk tangan mensuportku, kulihat tak ada penonton lain yang bertepuk tangan kecuali beliau seorang.
“Bismillah, semoga lancar” dalam hati aku berdo’a.
Aku telah berada di panggung itu, sebelum lampu hijau menyala tanda aba-aba untuk mulai, aku dan pak guru saling bertatap, beliau lemparkan senyum kepadaku tanda support supaya aku tidak begitu grogi.
Lampu hijau pun menyala, kulantunkan surat al-anfal ayat satu sampai dengan tiga. Dengan hati-hati dan penuh konsentrasi aku melantunkanya sesuai yang diajarkan oleh pak guru kepadaku. Setiap peserta diberi waktu 15 menit untuk menampilkannya. Lampu merah pun menyala sebagai aba-aba untuk kusudahi tampilanku. Shadaqallahuladziim, Alhamdulillah aku merasa lega, pak guru pun kembali bertepuk tangan atas tampilanku itu.

Detik-detik menunggu pengumuman pemenang pun tiba. Saatnya dewan juri mengumumkan nama-nama pemenang dalam lomba itu untuk maju kedepan. Juara ketiga di raih oleh SD daerah kota kabupaten, Aku lupa siapa nama pesertanya. Juara ketiga diraih oleh SD daerah kecamatan kami, Umar namanya, karena ketika itu aku sempat duduk bareng disampingnya sebelum lomba dimulai.
Kembali pengumuman dari dewan juri.
“Juara pertama diraih oleh nomor undian 17 dari Madrasah Ibtida’iyah Islamiyah...” Aku menengok tanda pengenalku yang menempel di saku sebelah kiri bajuku. Ku lihat nomor peserta 17 tak lain adalah aku. Aku saling beradu pandang dengan Pak Guru yang duduk disampingku. Mendadak jantungku berdebar kencang. Aku sempat tak percaya jika sang juara dalam lomba itu adalah aku. Pak guru pun menyungging senyum penuh ceria sembari bertepuk tangan lalu menyuruhku untuk maju kedepan menerima penghargaan itu. Aku pun naik ke atas panggung dengan penampilan unikku, bersarung diantara mereka yang tampak ramping dan rapi.
Sebagai dokumentasi, panitia mengambil gambar seluruh peserta. Yups, tepatnya foto-foto. Yang berhasil menyabet juara berpose di depan lengkap dengan piala di tangan masing-masing. Alhasil aku yang bak pengantin sunat itu berpose di tengah sebagai pusat perhatian audiens.
&&&
Sore itu selapas lomba Qiroatil Qur’an pak guru mengantarku hingga ke rumah. Tampak emak sedang asyik menata kayu-kayu bakar di halaman rumah. Aku menyalami emak lalu ku cium tangan beliau. Pak guru melempar senyum kepada kami sebelum beliau menggayuh sepeda meninggalkan kami.
Aku tak bisa mengumpat rasa suka cita ini.
“Gimana, Pul, lombanya?”
“Alhamdulillah lancar, Mak.”
“Lancar gimana?”
“Ipul dapat juara satu, Mak.” Jawabku sembari menyodorkan amplop hadiah lomba berisikan uang tunai Rp 25000. Emak turut gembira seraya menciumi aku yang tengah sibuk melepaskan baju seragam sekolah yang kukenakan.
Kembali aku menengok benih-benih singkong yang telah bertunas itu. Pasalnya pagi tadi tidak sempat ku longok dikarenakan tugas yang ku emban mewakili sekolahku. Tampaknya benih-benih itu sudah siap tanam. Tidak menunggu lama untuk menunggu tunas-tunas itu tumbuh. Kira-kira seminggu saja asalkan rajin menyiraminya.
&&&
Lima bulan sudah aku bergelut dengan tanaman singkong di pekarangan rumah. Dalam kurun waktu itu, tidak hanya menanti buahnya saja, namun pucuk daun mudanya pun bisa digunakan sebagai lalapan yang konon mengandung zat besi. Tiba saatnya umbi akar itu siap dipanen. Satu demi satu ku dongkrak akar-akar yang telah membesar itu. Alhamduliullah setelah penantian yang cukup panjang itu akhirnya aku dapat mrnuai hasilnya.
Emak yang cukup kreatif membuat aneka makanan darinya. Salah satunya dibuat seperti mata sapi. Singkong diparut halus, diberi sedikit pewarna menggunakan daun katu biar tampak hijau warnanya. Sebagian yang lain diberi pewarna merah dari pucuk daun jati. Kedua adonan yang telah diwarnai itu dipadukan sehingga tampak menarik. Buah pisang diletakkan ditengahnya dalam balutan daun pisang. Setelah dikukus hingga masak, jadilah kue itu seperti mata sapi setelah dipotong-potong.
Sebagian yang lain dari singkong itu dicampurkan dengan ragi. Lalu didiamkan selama kurang lebih tiga hari untuk menunggu proses fermentasi. Maka jadi lah tape singkong atau biasa disebut peiyem.
Tak lupa ku sisihkan kue dari umbi akar itu kepada ustadz Hasan yang telah membekaliku bakal karbohidrat itu. Aku mencoba keliling kampung untuk menawarkan kue bikinan emak, barangkali saja ada yang berminat membelinya.
Seperti sebelumnya aku pun memilih beberapa batang pohon singkong untuk dijadikan benih. Ku tanam lalu ku tanam sehingga tidak habis begitu saja.

&&&

Friday, November 6, 2009

Zahra Dan Jilbab




Nikmatnya rehat setelah lelah meghampiri Zahra yang kini kian sibuk dengan persiapan skripsinya. Akhir-akhir ini mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan Fakultas kesehatan masyarakat ini sibuk dalam upanya pencarian data baik dari segi literatur maupun research penunjang guna menyelesaikan tugas akhirnya setelah empat tahun menggeluti bidang itu.

Zahra yang kerap dijuluki WTS alias wanita tahan sumuk karena selalu tampil rapi dalam balutan jilbabnya yang menjulur hingga menutupi dada ini tinggal di daerah Umbul Harjo tak jauh dari area kampusnya. Zahra tinggal bersama Farah teman satu costnya yang baru menginjak semester lima, kebetulan mereka sesama mahasiswi FKM. Hari-hariny tak lepas dari bacaan Al-qur’an, setiap selesai sholat wajib ia selalu sempatkan diri untuk membaca kalamullah. Tak heran jika wajahnya tampak cerah oleh cahaya wudu yang selalu ia jaga.

*****

Siang itu hari sabtu selesai dari kegiatan dikampus Zahra berniat mengunjungi neneknya yang tinggal di kabupaten Bantul tak jauh dari tempat wisata Parangtritis. Sekedar untuk merefreh diri ketika penat menyapa sambil merenungi indahnya kuasa Ilah biasanya ia berkunjung kesana. Maklum masa kecilnya banyak ia habiskan di sana bersama saudara-saudara sepupu serta teman kecilnya, sehingga rasa kangen akan suasana laut pun terkadang muncul pada sosok gadis yang kian dewasa ini.

Sesampainya di jalan Paris tepatnya di daerah JOKTENG (Pojok Benteng) Zahra turun dari KOBUTRI lalu beralih kendaraan yang akan mengantarnya menuju rumah dimana tempat neneknya tinggal. Zahra menghampiri ELF yang berjejer paling depan menandakan bahwa kendaraan itu akan segera berjalan. Tampak ada kursi kosong disamping cewek berbaju coklat dengan kuncir rambut dikepalanya yang tengah asyik dengan buku bacaanya “GARA-GARA JILBABKU?”. Senyum kecil Zahra lontarkan kepada gadis itu tanda minta dipersilahkan untuk duduk bersamanya.

“Kelihatanya bacaanya asyik mbak?” ucap Zahra memulai percakapan. Gadis itu hanya senyum simpul menimpali ucapan Zahra.
“Buku baru ya?” lanjut Zahra. “Iya, baru saya dapat dari Gramedia kemarin” jawab gadis itu.
“Kok bukunya tentang jilbab, maaf mbaknya muslimah?”
Gadis itu hanya mengangguk sambil senyum.

Percakapan pun berlanjut antara keduanya. Gadis yang berkuncir itu menceritakan kepada Zahra bahwa ia sebenarnya ingin mengenakan jilbab namun keraguan kadang masih muncul dihatinya, alasan belum siap dan lain-lain terkadang masih hinggap dipikiranya, belum lagi masalah tidak bebas bergerak karena beberapa instansi masih ada yang mencanangkan aturan harus tidak berjilbab jika ingin bergabung dengan instansi itu.

Zahra menanggapi apa yang dituturkan gadis berkuncir itu, bahwa semuanya tergantung pada niat, jika tekad kita kuat untuk menjalankan perintah-Nya mestinya rasa ragu itu harus dibuang jauh-jauh. Jilbab adalah ciri khas muslimah agar dapat dibedakan dari wanita-wanita kafir. Apa seorang muslim mau dikatakan kafir? Tentunya dari hati kecil yang paling dalam akan mengatakan “tidak”. Nah disitulah letaknya kenapa muslimah harus dibedakan bahkan dari segi penampilan pun. Ada suatu hadits yang mengatakan bahwa “barang siapa yang mengikuti suatu golongan, maka orang tersebut termasuk golonganya”. Nah jika tidak ingin dikatakan seperti mereka (wanita-wanita kafir) tentunya cara berpakaian pun hendaknya tidak mengikuti ala mereka yang tidak mengindahkan jilbab. Lagi pula dengan berjilbab tidak akan mengurangi kecantikan seorang muslimah, bahkan tampak lebih anggun dengan berjilbab.

Obrolan yang cukup panjang telah berlanjut namun mereka lupa saling memperkenalkan diri masing-masing.

“Maaf kalau boleh saya tahu nama mbak siapa?” tanya gadis yang berkuncir itu
“Zahra”…”Namamu?” Zahra berbalik tanya kepada gadis yang berkuncir itu.
“nama saya Firdausi, biasa dipanggil Firda”
“Nama yang bagus” sanjung Zahra kepada Firda
“Saya tinggal di Jokteng, kapan-kapan mbak Zahra bisa mampir ke tempat saya”
“InsyaAllah” ucap Zahra.

Firda mahasiswi politeknik kesehatan Yogyakarta jurusan analis kesehatan kerap kali mengunjungi perpustakaan umum terdekat. Penampilanya yang selalu rapi namun belum dibalut oleh jilbab, ia masih ragu untuk menutup mahkotanya dengan kain penutup dengan alasan belum siap. Padahal ia tahu jika seharusnyalah jilbab dikenakan oleh seorang muslimah.

*****

Rumah nenek Zahra sudah semakin dekat, Zahra berpamitan kepada Firda untuk turun duluan, sedangkan Firda masih melanjutkan perjalananya menuju kampung sebelah untuk penelitian tentang kadar air laut guna melengkapi tugas kampusnya.

Sesampainya di rumah nenek tampak nenek tengah menikmati hawa sore dihalaman rumahnya yang dipenuhi oleh pepohonan melinjo disana. Sedangkan kakeknya tengah asyik memberi makan ikan-ikan lele pada kolam berukuran 2 x 3 itu.

“Assalamualaikum” sapa Zahra kepada neneknya
“Waalaikum salam warahmatullah” jawap nenek sambil menyambut cucu cantikya itu.
“piye kabarmu nduk? Mbah kangen”
“Alhamdulillah, Zahra sae mbah”

Peluk dan cium menyambut haru pertemuan itu karena cukup lama Zahra tidak menengok neneknya, persiapan tugas akhir memang cukup menyita waktu Zahra sehingga hampir tiga bulan ia tidak mengunjungi neneknya. Biasanya setiap dua minggu sekali Zahra menghabiskan week end di Bantul, alih-alih dari pada jauh pulang ke Kudus sehingga ia gunakan untuk berkunjung kepada nenek.

*****

Rupanya Firda masih terngiang-ngiang dengan kalimat-kalimat yang diucapkan Zahra sepanjang perjalanan kemarin. Pagi itu usai megunjungi perpustakaan dikampusnya Firda meluncur ke Umbul Harjo sekedar main ke tempat Zahra. UAD tampak tak jauh dari pandanganya, Firda mencoba menghubungi Zahra.

Ditdit…ditdit…Tanda ada SMS masuk di poncell Zahra, “mb’Zahra lg dmn?, sy skrg di UAD dpan pntu utama”…sender : Firda

Zahra yang tengah asyik dengan komputernya ditemani irama nasyid Raihan al-I’tiraf segera menuju pintu utama kampus UAD. Dijumpainya Firda yang tengah menunggu dirinya sambil menikmati terik mata hari siang itu.

“Assalamualaikum” sapa Zahra kepada Firda
“Waalaikum salam” jawab Firda

Kemudian Zahra mengajak Firda ke tempat Costnya. Terlihat Farah telah mempersiapkan jamuan alakadarnya untuk Firda. “adekku yang satu ini memang pengertian” Canda Zahra kepada Farah. “Iya dong…” lanjut Farah.

“Ayo diminum Firda” ucap Zahra mempersilahkan Firda.

Obrolan antara mereka pun berlanjut, suasana pukul 14.00 lumayan panas, namun nikmatnya es kelapa muda yang mengalir dikerongkongan dapat menghilangkan dahaga itu. Kembali kepada niat Firda untuk berjilbab. Terlihat keseharian Zahra dan Farah anggun dalam balutan jilbab yang menjulur menutupi dada, “sedang aku masih belum mengenakanya” gumam Firda dalam hati.

Zahra membuka lemarinya mengambil jilbab kesukaanya, diberikanya jilbab itu kepada Firda dengan senyum manis Zahra berkata “ambillah ini Firda, ini jilbab kesukaanku, semoga keraguan itu segera hilang dari benakmu dan untuk melaksanalan niat baik, hendaknya jangan di tunda-tunda”

“InsyaAllah” ucap Firda sambil menerima jilbab pemberian Zahra.

“Dengan berjilbab kamu akan tampak indah seindah namamu…Firdausi…semoga kelak kita akan dipertemukan di surga Firdaus nanti”

“Amiin” ucap Farah mengamini kata-kata Zahra

*****

Pagi Itu sekitar pukul 07.00 Zahra tengah mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus, ketika itu Farah tidak sedang bersamanya. Tiba-tiba ia dapati benda-benda diruangan itu berjatuhan, computer pun bergeser hingga jatuh dari tempatnya. Zahra tampak bingung dengan keadaan ini, “ada apa ini?” gumamnya dalam hati. Terdengar teriakan-teriakan dari luar, dilongoknya suasana luar dari jendela, tampak terdengar teriakan “gempa…Allahuakbar…” serta teriakan-teriakan lain yang tak terdengar jelas. Seketika itu Zahra pun cepat-cepat buka pintu lalu keluar berlarian bersama orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri.

Ditengah upayanya berlari untuk menyelamatkan diri Zahra tersadar ternyata mahkotanya tidak tertutup oleh jilbab, seketika itu ia berbalik arah berlari cepat guna mengambil jilbab ditempatnya tinggal. Baru saja ia menggapai jilbabnya Zahra tak dapat lagi keluar bersama reruntuhan bangunan akibat goncangan yang dahsyat itu. Nyawanya tak dapat diselamatkan, demi mempertahankan jilbabnya Zahra rela
menyerahkan dirinya kepada yang maha kuasa.

Betapa amat sedihnya Farah ketika mendapati jenazah Zahra masih tetap dalam balutan jilbabya setelah efakuasi yang dilalukan oleh beberapa tim sukarelawan.

Seminggu setelah kejadian itu Firda berusaha menghubungi Zahra namun poncellnya tidak dapat dihubungi. Akhirnya Firda mencoba menghubungi poncell Farah, dan kabar yang amat sangat mengejutkan bagi Firda. Baru saja Firda melaksanakan niat baiknya untuk berjilbab karena tertegun dengan bahasa-bahasa yang disampaikan Zahra dalam perjalanan lalu dan dalam pertemuanya yang belum lama ini. Firda teringan akan kata-kata terakhir Zahra “semoga kelak kita akan dipertemukan di surga Firdaus nanti”.

*****

Thaif, 19 Dzulqo’dah 1430 H. Di keheningan malam ditemani nasyid Al-I’tiraf (sebuah pengakuan) oleh Raihan.

Monday, November 2, 2009

Ujung Cita Yang Bicara


Tak henti-hentinya kupandangi wajah ayu pelipur laraku. Bunda …semoga engkau damai disana, semoga engkau mendapat tempat yang mulia bersama orang-orang yang dimuliakan-Nya. Kusapu air mataku yang jatuh membasahi gambar ayu bundaku, ku dekap erat-erat bingkai itu seakan aku mendekap tubuh wangi bundaku tercinta. Ku ciumi wajah ayu itu, maafkan aku bunda, aku yang tak sempat menciummu disaat-saat terakhirmu, aku yang tak sempat melihat tubuhmu terbujur kaku.

Aku tak kuasa membendung tangisku kala ingatanku terbesit akan beliau yang ayu nan lugu. Duhai bunda, hanya do’a yang bisa kupanjatkan untukmu, semoga do’aku bisa menjadi amalan yang tak terputus untukmu. Maaafkan aku bunda, aku yang tak sempat melihatmu tersenyum manis tuk wujudkan citamu. Cita-cita kaum mislimin yang mulia untuk melaksanakan rukun islam yang kelima.

Kringgggggg…suara weker membuatku terperanjat dari lamunanku, kupandangi jarum jam telah menunjukan pukul 03.03, alarm yang telah kupasang sebelum kupejamkan mataku namun aku telah terbangun satu jam sebelum weker itu berbunyi. Mimpi itu membangunkanku dari tidur lelapku, mimpi bertemu bunda tersayang di suatu tempat yang luas serta rindang, beliau tersenyum padaku, kusalami beliau, ku peluk lalu ku cium, betapa rindu ini tak tepri ingin sekali rasanya aku berada didekatnya.

*****

Beberapa minggu sebelum kejadian itu ingatanku selalu terbesit akan wajah ayunya, lemah gemulainya, kesabaranya menjalani hidup sebagai single parent setelah kepergian suami tercintanya. Betapa telaten beliau mendidik kami, predikat janda dalam usia masih muda tidak membuatnya tergoda dengan lelaki yang beberapa kali meminangnya, dengan bahasa halus beliau tuturkan alasan untuk tidak menerima pinangan-pinangan itu. “maaf, saya menjaga amanah dari almarhum suami saya agar selalu dekat dengan anak-anak, dan saya pun ingin mendapat ridlo dari sang suami”. Itulah alasan yang selalu beliau lontarkan jika ada lelaki yang datang meminag. Aduhai bunda, halus nian tutur katamu. Walau terkadang kalimat-kalimat cemooh pun muncul mengarah pada janda muda separuh baya itu, istilah sok jaim dan lain-lain terkadang muncul dari laki-laki yang pernah meminangnya, belum lagi sebutan sebagai wanita penggoda oleh wanita yang merasa jealous kepadanya. Namun beliau tetap sabar menghaadapinya. Aku kagum akan sikap beliau yang begitu tegar, sabar dalam menghadapi cobaan. Tak salah ayahku memilih beliau sebagai istrinya. Beliau yang pernah belajar di pesantren Buya Hamka selama delapan tahun, kini kesehariannya mengisi kajian kepada ibu-ibu pengajian di surau dekat rumah kami.

Siang itu aku ke dapur, kucoba menirukan masakan ala bundaku “asam pedas” khas Sumatera barat. Wuihhh mantap memang, rasanya cukup membakar lidahku. Itulah yang kulakukan jika rindu ini muncul akan bunda, dalam menikmati hidangan itu aku senyum sendiri seakan bunda sedang ikut mencicipi masakanku sehingga sedikit kangenku terobati. “Bunda…sedang apakah kau disana? Semoga engkau baik-baik saja dan selalu dalam limpahan rahmat-Nya.”

Satu keinginan bunda yang belum terlaksana, ingin menginjakan kaki ke tanah suci. Ketika kutanya “apa keinginan bunda?” dengan polosnya beliau menjawab, “bunda ingin naik haji nak.” Mendengar jawaban beliau hatiku terenyuh, akankah aku bisa mewujudkan cita-cita mulianya?... Aduhai, sejak aku tahu betapa beliau ingin sekali menyempurnakan rukun islam, sejak itu pula aku selalu panjatkan do’a dalam setiap sujud terakhirku “ya Robb, wajibkan ibu saya haji.”

Bunda, bunda oh bunda, rasanya rindu ini semakin tak teperi, aduhai…kucoba bermain dengan tinta, ku goreskan kata-kata tentangnya.

# Siapakah dia ???

Dia yang menggendongmu selama Sembilan bulan
Dia yang melahirkanmu ke dunia
Dia yang merawatmu
Dia yang meninabobokanmu ketika kau sulit terlelap
Dia yang menghiburmu ketika kau kau menangis
Dia yang terjaga dimalam hari ketika mendengar tangismu
Dia sosok yang ayu…penuh kasih padamu

Tidak kah kau ingat ketika dia menitikan air mata karena ulahmu?
Tidakkah kau malu akan itu?
Mana wujud terima kasihmu?
Sedang surga dibawah telapak kakinya…

Lihat !!!
Lihatlah lekat lekat
Dia yang semakin hari semakin keriput
Dia yang semakin hari semakin lemah
Semakin lemah menopang tubuhnya yang kian membungkuk
Adakah kau disisihnya dikala dia tengah lemah

Duhai jiwa yang berhati…
Dimana kau saat ini?
Masihkah kau ingat akan dia???

*****

Hari ini Thaif begitu mendung semendung hatiku, entah apa yang terjadi rasanya hati ini gundah tak menentu, kucoba menghibur diri, ah mungkin ini hanya perasaan selintas saja dan semoga akan segera hilang rasa ini. Aku bersiap-siap berangkat dinas pagi bersama si ceriwis Faiq yang suka menggodaku. “Uni Rahma kok tampak lesu gitu, tidak seperti biasanya, ada apa uni?” celetuk Faiq memulai percakapan sambil menunggu bus jemputan pagi itu. “Ah tak apa kok” jawabku sekenanya. Bus jemputan pun datang membawa kami menuju arena praktek Subra street tepatnya di Children hospital. Entah hari itu perasaanku semakin galau saja, sepertinya hari itu aku tak semangat bergelut dengan tugas. Meski demikian aku harus tetap berkonsentrasi karena yang ku hadapi bukanlah benda mati melainkan makhluk hidup yang sedang dalam derita. Manusia-manusia kecil terbaring lemah menahan sakit, keadaan itu membuat para dewasa berfikir bahwa derita atau lebih tepatnya peringatan atau uji kesabaran itu tidak memandang usia. Manusia-manusia kecil yang tidak berdosa pun ditimpa derita yang cukup berat, kasihan memang. Disinilah dapat diambil pelajaran bahwa sehat adalah nikmat.

Sepulang dinas aku memutar MNC (the Indonesian chanel) melihat berita negeri tercinta disana. Gempa Sumatera Barat Pariaman, dag dig dug derrrrr, perasaanku semakin tak karuan, apakah ini ada hubunganya dengan perasaanku seharian in i?...cepat cepat ku ambil handpone dengan tangan gemetar klik kontak, kucari daftar nama bunda…nada putus ptus yang aku dapat, ku coba hubungi Farah adikku pun dengan nada yang sama tutututut. Ya Robb, ya Robb, ya Robb…berilah ketenangan pada hamba.

Hari-hari ku semakin glisah, tiga hari sudah aku tidak dapat menghubungi sanak familiku, belum ada kabar baru yang ku dapat, hanya terlihat dari layar televisi Pariamanku kini porak-poranda. Tak puas dengan berita dari MNC, kucoba cari situs-situs internet yang memuat tentang kabar itu. Pikiranku sunggu buntu, siapa lagi yang hendak aku hubungi? Saudara, kawan, semua tak dapat dihubungi, Aku hanya bisa pasrah kepada-Nya.

*****

Lima hari sudah kejadian itu berlalu, aku tengah asik bermain dengan komputerku, handponeku tertinggal di ruang Tv. Saat itu Faiq dan kawan-kawan sedang asik bersama ketoprak Humor di MNC, tiba-tiba suara Faiq mengagetkanku “uni…..ada telephon dari paman Haekal”, Aku bergegas memburu handponeku, Salam dan kabar kutanyakan kepadanya, dengan suara terbata-bata paman Haekal berbicara “Nak Rahma yang sabar ya, Ibumu telah tiada.” “Innalillahi wainnailaihi Roji’uun” Spontan aku jatuh terduduk teringat wajah bundaku serta bangunan hitam di Makkah Pusat Qiblat seluruh umat islam. Ya Robb ibuku belum sempat kesana, kenapa engkau telah menjemputnya… Isak tangis tak dapat ku bendung, seakan dunia runtuh ketika itu. Faiq dan yang lainya berusaha menenangkanku, dengan tanpa kata mereka membiarkan tangisku, membiarkan aku bersandar dibahunya, Sementara yang lain meletakkan tangganya dipundakku berusaha menenangkanku.

Keesokan harinya mataku masih tampak sembab, aku tidak dapat menyembunyikan kesedihan yang membuncah ini, kebetulan hari ini jadwalku libur, setidaknya mata sembabku ini masih bisa ku umpat dari lingkungan kerja. Menurut cerita paman Haekal ketika itu sekitar pukul lima sore bundaku baru saja selesai mengisi kajian di surau ba’da sholat ashar lalu gempa terjadi. Paman Haekal tinggal di Bukit Tinggi Alhamdulillah keluarganya selamat dari gempa itu, sedangkan beberapa saudara yang tinggal di Pariaman masih belum belum ditemukan.

Aku menceritakan kepada paman Haekal melalui telephone bahwa keinginan bunda belum terlaksana tapi sudah diniatkan, beliau telah mendaftarkan diri untuk ONH namun baru dapat kursi tahun 2010 nanti, memang untuk daerah sumatera barat ini setelah lima tahun baru dapat kursi, saking banyaknya jamaah yang berminat ke tanah suci. Aku belum sempat melihat bunda tersenyum atas cita-cita mulianya itu namun beliau telah terpanggil. Paman Haekal berusaha menjelaskan agar aku tidak kecewa atas itu, “Allah mencatat setiap kebaikan dan keburukan maka siapa yang ingin melaksanakan suatu dan tak jadi melakukanya, Allah telah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan yang sempurna, dan jika ia ingin melakukan kemudian melaksanakanya, Allah menuliskan untuknya 10 kebaikan hingga digandakan menjadi 700 kali dan bahkan lebih banyak dari itu, dan jika ia ingin melakukan amal keburukan dan tidak jadi melaksanakanya, Allah menuliskan baginya suatu kebaikan yang sempurna, dan jika ia melakukanya Allah menuliskan satu dosa untuknya” (Muttafaq ‘alaih, dikutip dari Riyadhus Shalihin).

*****

#Thaif, Dzulqo'dah 1430 H. Dalam imajinasi menunggu waktu subuh.
(sumbangan judul oleh k'TaQ)

Wednesday, September 30, 2009

Mata Mata Itu


Mata mata itu memandang seakan tak berkedip
Aku bertanya pada diriku
Ada apa dengan diriku?
Adakah sesuatu yang aneh dalam diriku?
Apakah diri ini asing dalam pandangan mereka?
Ah aku tak peduli dengan mata mata itu


Aku terus berjalan dan berjalan
Berjalan di kerumunan mata mata
Sampai akhirnya kakiku terhenti di tempat sepi
Kulihat tak jauh dari pandanganku
Ada pantulan cahaya dari sebuah cermin
Kudekati cermin itu


Aha...kini kutahu kenapa mata mata itu memmandangku seakan tak berkedip
Kudapati wajahku penuh noda
Noda hitam kelam...
Hitam kelam menghiasi wajahku akibat goresan arang
Ya...arang hitam


Namun mata mata itu tidak bicara
Mereka hanya memandangku saja
Cermin...
Terima kasih cermin
Kau tunjukan padaku goresan goresan hitam di wajahku


Aku berjalan dan terus berjalan
Kubiarkan cermin mungil itu menemani langkahku
Suara suara itu...
Aku mendengarnya
Suara gemericik air tak jauh dari arahku
Kucoba dekati suara suara itu
Dekat dan semakin dekat


Kudapati telaga dengan gemericik air jernih disana
Aha...air...
Kusapu goresan goresan hitam di wajahku dengan air
Pyar...pyur...pyar...pyur...suegerrr


Teman mungilku...
Aku teringat akan teman mungilku
Cermin...
Wahai cermin...Masih adakan goresan goresan hitam di wajahku???
Cling...
Habis sudah goresan goresan hitam itu


Aku berjalan dan terus berjalan
Sampai pada kerumunan mata mata lagi
Namun mata mata itu tak lagi peduli padaku
Dalam kerumunan mata mata itu
Kudapati sepasang mata memandangku
Ia Tunjukan manisnya lengkung bibir padaku


*****


#Thaif 11 Syawal 1430 H

Wednesday, September 23, 2009

Senja Di Laut Merah



Seorang ayah bersama putrinya bercakap ria sambil menikmati hawa sore di bibir pantai Laut Merah sambil menyaksikan deburan ombak,ceria burung-burung mengepakkan sayapnya bersuka ria agungkan Dia. Hembusan angin kencang pun mengiringi suasana itu membuat jilbab Zainab berkibar-kibar. Sore yang indah, di bibir pantai itu terdapat masjid konon sebagian orang menyebutnya "masjid terapung" karena jika tampak dari jauh seperti terapung di atas air.

Ayah : Nak, tahukah kamu apa tugas orang tua terhadap anaknya?
Zainab : Apa ayah? (sambil menengok ke wajah ayahnya)
Ayah : Memberi nama yang baik, memberi pendidikan lalu menikannya.
Kira-kira tugas apa lagi yang belum ayah lakukan untukmu nak?
Zainab : (Zainab tersenyum, ia mengerti maksud pembicaraan ayahnya)
Ayah : Kenapa kau tersenyum nak...sudah berapakah usiamu sekarang?
Zainab : Dua puluh empat tahun ayah...
Ayah : Sudah siapkah kau menempuh hidup baru?
Zainab : (terdiam lalu ia tundukan pandangannya)
Ayah : Adakah kau temukan seorang ikhwan yang cocok dihatimu nak? bolehkah ayah
tahu siapa dia?
Zainab : Zainab belum berani mengungkap ayah...
Ayah : Kenapa nak? berterusteranglah pada ayahmu ini.
Hanya yang ayah pinta, ayah menginginkan seseorang yang berjiwa santri. itu
saja.
Zainab : Adakah Ayah punya pilihan untuk Zainab?
Ayah : Itu tergantung padamu nak...kalau pun ada seseorang yang cocok menurut ayah,
tapi apakah ia cocok menurutmu? ayah belum tahu...makanya ayah tanyakan
padamu.
pria seperti apakah dalam kriteriamu nak? berkedudukan tinggi kah, berharta melimpah kah?

Zainab : Kedudukan bisa diraih dengan prestasi ayah, harta bisa dicari. Namun apalah artinya kedudukan dan harta tanpa disetir dengan akhlaq yang baik dan hati yang lembut. Seseorang tidak akan dihormati karena kedudukan serta hartanya jika akhlaqnya buruk dan berhati keras, ia tidak akan bisa memenej kedudukan dan hartanya itu. bahkan ia memanfaatkan kedudukanya untuk berbuat sewenang-wenag. Lain halnya jika ia memiliki akhlaq baik dan berhati lembut, tanpa minta disegani pun orang akan menghormatinya.
Zainab menginginkan seseorang yang berakhlaq baik ayah...yang mencintai Zainab karena Allah, buka karena kedudukan atau harta karena Zaenab bukan keturunan raja atau sultan. Zaenab adalah putri ayah, yang telah ayah didik secara religius...Zainab bangga jadi putri ayah.

Ayah : (diusapnya kepala Zainab tanda sayang)
Zainab : Ayah...bolehkah seorang perempuan menanyakan mahar kepada calon mempelai pria?
Ayah : Baiknya itu sesua dengan yang ia mampu nak...mahar apakah yang kau harapkan nak, nominal yang tinggi kah, harta yang melimpah kah?
Zainab : bukan ayah, bukan itu...
Ayah : lalu apa nak?
Zainab ingin mahar yang lain dari pada yang lain, tidak berupa nominal atau pun bentuk keduniaan yang lain.
Ayah : Apa itu nak?
Zainab : Zainab ingin sesuatu yang spesial ayah...Zainab ingin maharnya berupa ayat suci Al-Qur'an. Mempelai pria membacakan ayat suci Al-Qur'an untuk Zainab...dengan makhroj yang fasih...masyaAllah indahnya... Lalu setelah Zainab sah menjadi istrinya, ia ajarkan isi dan kandungan ayat tersebut kepada Zainab.
Itulah yang ada dalam angan Zainab ayah...
Ayah : MasyaAllah
Zainab : Surat apakah yang bagus ayah?
Ayah : (tertegun mendengar penuturan putrinya)
Zainab : Hmmm...ayah...surat Ar-Rahman...
Ya Zainab ingin dibacakan surat Ar-Rahman sebagai mahar dalam akad nikah Zainab nanti.
Ayah : (tersenyum bahagia akan penuturan putrinya itu)
Zainab : Do'akan Zainab ayah, semoga Allah pertemukan Zainab dengan cinta sejati Zainab yang tulus ikhlas karena Allah.
Ayah : Amiin...ayah bangga padamu nak...putri ayah memang cantik, semoga hatimu pun cantik nak...(sambil mengusap kepala Zainab tanda sayang, bangga serta haru akan segala penuturan putrinya itu)
Zainab : (tersenyum)...hari sudah semakin senja ayah...ayo kita pulang...
(keduanya beranjak lalu meninggalkan tempat itu)


*****


# Thaif, 4 Syawal 1430 H
Dalam renungan @ inaya almurakazah, disela-sela tugas ketika suasana tidak begitu menyibukkan.

Thursday, July 30, 2009

PASTI HADIR DAN BERGILIR

Dinas malam datang disambut dengan pasien dalam kondisi sangat kritis, bradikardia , saturasi rendah, hampir tidak terekam,tekanan darah juga nyaris tidak dapat direkam, hanya bertahan dengan obat-obat pemacu jantung sehingga cardiac monitor masih tampak jika masih ada tanda-tanda kehidupan. Resusitasi jantung-paru telah dilakukan, dua siklus emergency drug telah disuntikkan. Waktunya operan antar sesama dokter. feeling kami pasien ini tidak akan lama lagi dapat bertahan. Sekujur tubuhnya pucat, bibirnya tampak biru tanda sianosis , data penunjang dari laboratorium pun tidak menunjukan hasil yang bagus, hemoglobinnya rendah, dokter memberi order untuk tranfusi darah. Adrenalin sebagai obat pemacu jantung sedang diberikan, dopamine dan dobutamine sebagai obat pemacu tekanan darah pun juga diberikan.


Dokter yang berjenggot itu terus saja memberikan treatment-treatment untuk mempertahankan kondisi pasien yang sudah kritis itu. Wajahnya tampak panik, berbagai advice telah dicoba, perawat pun memberikan treatment-treatment yang diorderkan oleh dokter itu. Sejak pukul 23.00 tadi tim malam disibukkan dengan satu pasien yang sangat kritis, belum lagi kita harus mengobservasi pasien-pasien yang lain.


Waw...detak jatungnya menurun, terlihat dari layar monitor, resusitasi jantung-paru terus dilakukan, lagi-lagi emergency drug pun disuntikan, sepertinya sudah empat siklus dari emergency drug yang telah disuntikan. Namun dokter itu tetap saja berusaha agar pasiennya tetap bertahan. Aku tak tega melihatnya, aku tak tega melihat bayi mungil berusia 41 hari dengan resusitasi yang dilakukan oleh tangan-tangan orang dewasa, walaupun hanya dengan dua jari namun itu anak kecil, sakit aku melihatnya.


Tiga jam sudah kita berusaha mempertahankan nyawa sikecil yang tak berdosa. Kali ini salah satu dari perawat mencoba berkata kepada dokter.

"Dokter, pasien ini sudah tidak ada, apa lagi yang kau pertahankan? cardiac monitor itu muncul karena pengaruh dari obat-obatan itu, jika tidak, mungkin sudah tidak nampak lagi di monitor." Dokter yang berjenggot itu masih saja berusaha melakukan resusitasi.


Pukul 03.00, zero, ya tampak zero di layar monitor, ritme detak jantungnya tampak garis lurus (flat), kali ini dokter itu mungkin sudah tidak denial lagi, ia sudah menerima jika pasiennya tidak dapat dipertahankan lagi. Akhirnya segala kegiatan dihentikan, sudah tidak ada lagi respon dari pasien, pupilnya tampak dilatasi , sekujur tubuhnya hipotermia , tampak biru saturasi tidak muncul lagi. Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun...dilepasnya segala obat-obatan infus pemacu jantung dan pemacu tekanan darah, dilepasnya pula bayi mungil itu dari ventilator, sebagai mesin pensuport pernafasanya. Ditutupnya tubuh bayi mungil itu dengan kain penutup. Kini ruh telah terpisah dari jasad si bayi tanpa dosa itu. Surga menantimu, nak.


*****

Selesai sudah kita mencoba menolong nyawa sibayi mungil itu, namun Allah berkehendak lain. Kegiatan selanjutnya mengurus jasad sibayi, kubuka penutup wajahnya, kubacakan do'a untuknya, "Ya Allah berikanlah ampunan, rahmat, keselamatan lagi maafkanlah dia, semoga engkau memuliakan tempatnya di surga. Ya Allah semoga engkau tidak sampai menghalang-halangi kepada kami dalam pahalanya, dan jangan sampai ada fitnah kepada kami sepeninggalannya. Semoga Allah memberikan ampunan kepada kami dan dia. Amiin ya Robb."


*****

Kegiatan berlanjut seperti biasa, melanjutkan tretment sesuai dengan order dokter kepada setiap pasien. Adzan subuh telah berkumandang, kulihat dokter yang sering disebut-sebut mutowe itu melepas sepatunya menuju toilet untuk berwudlu.


Sekitar pukul 04.40 terdengar dering telephone. Tilulit...tilulit...tilulit...dering telephone terdengar dari ruang dokter. Usai menjawab telephone dokter segera menginformasikan kepada perawat jika ada pasien baru yang akan datang. Ketika itu ada satu bed kosong telah siap jika ada pasien baru yang akan datang, dan satu bed lagi bekas pasien yang meninggal tadi namun belum sempat dibersihkan oleh cleaner karena jenazahnya baru akan dikirim dua jam setelah dinyatakan meninggal.


Kali ini pasiennya datang langsung dari emergency room , Pasien datang dengan dehidrasi berat, yups...tindak cepat sambil sedikit lari-lari mempersiapkan segala yang dibutuhkan pasien. Semua bersifat penting, IV fluid segera diberikan, blood sample segera dikirim ke laboratorium serta beberapa treatment yang lain pun segera diberikan.

Belum selesai dengan pasien yang tadi, tiba-tiba, tilulit...tilulit...tilulit...dering telephone terdengar lagi, agaknya ada pasien kritis di ruangan lain. Ya jika ada pasien yang kritis di ruangan lain segera dikirim ke ICU. Segera minta bantuan cleaner untuk membersihkan bed yang telah digunakan oleh pasien yang baru meninggal tadi. Beberapa perawat mempersiapkan peralatan, IV stand , infusion pump , cardiac monitor juga file dan lain-lain telah siap di sana. Tak lama kemudian sekitar pukul 05.45 "ting-tong" bunyi bel dari luar tanda pasien telah berada di luar minta dibukakan pintu. Jug...jug...jug...suara troly dengan pasien diatasnya bersama perawat serta dokter datang mneghantarkan pasien, Ibu sang pasien mengiringinya dari belakang dengan abaya hitam serta penutup wajah hanya tampak matanya saja.


Sekarang giliran aku yang menerima. Pasien usia sembilan bulan dengan kasus jantung, datang dalam keadaan sianosis berat, distress , saturasi tidak terekam karena ekstrimitas nya teraba dingin. Ketika itu pasien sangat menangis meronta. Beberapa order telah dilaksanakan ketika diruangan sebelum pasien ditransfer. Sampel darah telah dikirim ke laboratorium. Dari ICU hanya menindaklanjuti hasilnya saja. Hanya ada satu order untuk menghentikan antibiotik yang lalu diganti dengan antibiotik yang baru. Yups, observasi tanda-tanda vital, disambungkan ke cardiac monitor dan berusaha menjaga kehangatan tubuh pasien seperti menyelimutkan selimut yang sudah dihangatkan terlebih dahulu. Alhamdulillah kondisinya mulai stabil, pasien pun masih sempat bersuara, bergerak dan menangis. Respiratory distress nya telah terkurangi.


Tilulit...tilulit...tilulit...lagi-lagi dering telephone terdengar, apa lagi ini? salah satu dari kami mengangkat gagang telephone itu, kali ini datangnya dari laboratorium, pihak lab menginformasikan jika sampel darah yang telah dikirim rusak, tentu kita harus mengirim sampel yang baru. hemmm mau tidak mau kita harus ekstract darah lagi karena data penunjang dari lab harus segera diketahui.


Agaknya suasana mulai senggang, aku melanjutkan tulisanku melengkapi catatan keperawatan, temanku membantuku mengekstrak darah untuk dikirim ke laboratorium. belum selesai aku menutup catatanku sekitar pukul 06.55 tim pagi pun telah datang. tiba-tiba tampak di cardiac minitor detak jantung cuma 50 kemudian menurun, segera kami lakukan resusitasi lalu melaporkanya ke dokter. Intubasi pun dilakukan, pure adrenaline diberikan melalui endo tracheostomy tube (ETT), resusitasi jantung-paru (RJP) dilakukan, emergency drug diberikan. Kejar terus detak jantungnya dengan upaya semampu kita. Tiga puluh menit sudah RJP dilakukan serta empat siklus dari emergency drug pun telah diberikan. Dua dokter spesialis pun datang menyaksikan aksi itu, lagi-lagi dokter yang berjenggot itu berusaha mempertahankan pasien itu, agaknya ia denial jika terjadi yang kedua kalinya. lalu dokter sudani dengan celana ngatung itu berkata, "sudah, ini sudah tidak ada lagi, lihat saja wajahnya sudah hitam seperti charcoal (arang) karena sianosis berat." Ketika itu tampak pada cardiac monitor detak jantungnya tidak stabil, 22, 25 kemudian menurun.

"Tapi lihat detak jantungnya belum tampak flat", ucap dokter yang berjenggot itu.

"jangan hanya percaya pada monitor, itu karena pengaruh dari obat-obat yang telah diberikan tadi" lanjut dokter pakistani dengan wajah kalemnya berusaha meyakinkan dan menjelaskan. Akhirnya pasien dinyatakan ples pukul 07.30. Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun, siapa yang tahu lima menit kedepan apa yang akan terjadi? sama sekali kita tidak menyangka jika pasien baru itu akan menyusul pasien yang lalu karena kejadianya begitu tiba-tiba. Entahlah bagaimana perasaan Ibunya karena ia masih sempat melihat anaknya menangis waktu mengantarkanya, lalu saat ini anaknya tidak dapat menangis lagi untuk selamanya. Ya Robb.


*****

# Thaif 8 Sa'ban 1430 H, Sepulang dinas malam ditemani nasyidnya Opick "Taqwa".

Wednesday, July 22, 2009

Jerih Keringat Ayah

Aku tak tega ketika ku pandangi wajah ayah lekat-lekat, keriput wajahnya menunjukan bahwa ayahku sudah sepuh saat ini. Kulihat guratan-guratan lelah diwajahnya, betapa ayahku amat sangat berat memikul beban demi menghidupi anak-istrinya. Namun ayahku selalu mencoba tersenyum didepan kami, tak pernah beliau tunjukan keluh kesah kepada kami. Selalu mencoba menunjukan lengkung bibirnya yang manis, penuh harapan kepada kami. Walau ku tahu betapa amat lelah ayahku.

Semangatnya Subhanallah...pantang menyarah, demi anak-anaknya terdidik dengan baik walau pun harus mengupas kulitnya, akan beliau lakukan itu. Beliau tidak ingin jika putra-putrinya jadi yang terbelakang dalam pendidikan. Ibuku pernah mengatakan itu kepadaku.

Semangat ayahku terinspirasi dari kakekku almarhum (mbah Mustafa), kakekku berasal dari keluarga yang sederhana, namun keinginanya untuk belajar di pesantren sangat kuat, sering kali beliau kehabisan bekal di pesantren, sehingga harus ijin pulang untuk kuli guna mengumpulkan bekal. Setelah bekal terkumpul berangkatlah beliau untuk belajar di pesantren. Suatu hari beliau berangkat ke pesantren dengan menggunakan kereta api, dalam perjalanan itu beliau tidak sengaja menubruk lampu yang ada di kereta sehingga pecahlah lampu itu, alhasil kena marah sama petugasnya. Ketika itu dalam hatinya beliau berdo'a "ya Allah besok seandainya saya dikaruniai anak, akan saya titipkan anak-anak saya supaya bisa belajar di pondok. Semoga anak-anak saya tidak rekoso (menderita) seperti saya." Itulah sekelumit cerita dari ayah tentang kakek.

Ibuku seorang yang sangat khidmat terhadap suami, patuh, manut. Ketika ayah sedang tidak berana di rumah beliau sangat menjaga amanat ayah. Beliau menjaga nenek (ibu dari ayahku) dengan penuh ketulusan melebihi ibunya sendiri. Sampai-samapi jika hari lebaran tiba ibuku tidak sempat menengok ibunya sendiri, karena ketika itu mbah Muhayah (nenek dari ayahku) sedang sakit, juga tempat tinggal kami lumayan berjauhan. Namun mbah Maesaroh (nenek dari ibuku) ikhlas jika ibuku tidak menengok beliau. Ibuku merawat mbah Muhayah dari hidupnya, sakitnya hingga meninggalnya pun didepan ibuku. Setelah selesai ibuku membacakan surat Yasin sebanyak tiga kali menjelang detik-detik terakhirnya, ketika itu nenekku dipanggil oleh yang Maha kuasa. Sempurnalah pengabdianya kepada ibu mertua. Betapa ayah sangat berterima kasih kepada ibu atas pengabdianya itu. Semasa hidupnya mbah Muhayah pernah berucap kepada ibuku minta dimpura sakapuratine (minta dimaafkan seluruh kesalahanya) karene telah rela merawat dirinya.

Ayah pernah mengatakan kepadaku "seandainya nanti di akhirat ibumu tidak masuk surga, ayah berhak menuntut kepada Allah, ya Allah kenapa istriku tidak berada di surga, padahal baktinya, pengabdiannya telah ia curahkan sepenuhnya kepada suami." MasyaAllah merinding aku mendengarnya, betapa ayah sangat mencintai ibuku karena Allah. Beruntung ibuku telah mendapat ridlo dari sang suami. Ya ibuku seorang yang sangat halus perangainya, lembut tutur katanya.

Bagiku ayah adalah sosok yang tangguh, bisa tegas bisa juga lembut. Sosok pemimpin yang baik dalam keluarga. Tidak sekedar suami bagi ibuku saja, tetapi juga pendidik, guru, teladan bagi kami. Walau terkadang juga keras, pernah suatu hari aku dan adik-adiku belajar ngaji (baca alQur'an) sama ayah, ditengah-tengah kajian ibuku datang dari warung membawa jajanan, maksud ibuku nanti selesai ngaji baru jajananya dimakan rame-rame. eh...namanya anak-anak tak tahan melihat jajanan, malah kita pada ngambil jajanan itu, alhasil kena semprot lah kami oleh ayah. hehe kami cuma bisa menunduk ketika itu. lucu kalau inget itu.

Ayah...nasehatmu selalu terngiang dalam diriku, harapan-harapanmu selalu ku ingat, akan ku coba wujudkan harapan-harapanmu ayah. Walau ku tahu mungkin tidak sepenuhnya yang ayah harapkan dariku terwujud, namun akan tetap ku coba untuk mewujudkanya walau hanya beberapa.

Ibu, ayah, nanda sangat mencintai kalian. Nanda selalu mengharap do'a serta ridlomu. Ya Robbi...ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, peliharalah kedua orangtuaku sebagaimana mereka memeliharaku ketika aku masih kecil. Amiin ya Robbal alamiin.

*****

# Thaif 27 Rajab 1430 H
Tak kuasa airmataku meleleh ketika kutuliskan ini. sambil ditemani nasyidnya Dua azimat (album Al-intidzor).